Kupu-kupu Itu Bernama Ningrum

“Ning, ibu berangkat ya. Hati-hati jaga rumah.” Ucapnya, sebelum menutup pintu pagar.

Seperti biasa, sehabis shalat maghrib ibu berangkat bekerja dan akan pulang esok paginya. Ketika itu usiaku masih 10 tahun, dan yang kutahu saat itu ibu bekerja di sebuah toko pakaian di bilangan Malioboro. Hingga pada akhirnya aku mendengar orang-orang kampung sering menggosipi ibu, ibu bukan perempuan baik-baik, kata mereka. Setiap aku ke warung untuk membeli sesuatu, orang kampung selalu sinis memandangku, bahkan anak-anak mereka tak diperbolehkan main denganku.

Sedih saat aku mengingat itu, dan malam itu aku ingin sekali ibu datang memelukku dan aku tertidur dalam pelukannya.

Jam baru menunjukkan pukul 22.30, dan aku nekat beranjak ke tempat ibu bekerja yang sering orang-orang kampung gosipkan. Pasar Kembang Gang 3. Saat itu aku tak tahu, rumah bordir itu apa. Pikirku itu hanya sebuah Pabrik Konveksi, sebab ibu-kan pandai menjahit. Di sana aku menemukan banyak perempuan-perempuan berpakaian minim, dan juga aku bertemu Tante Dewi, teman ibu yang sering datang ke rumah. Ia pun bertanya padaku perihal apa yang membuatku datang ke tempat itu.

“Ning, kamu ngapain di sini?” Tanyanya.
“Tante, Ningrum mau jemput ibu. Tante lihat ibu, nggak?” Sahutku
“Ibu kamu lagi kerja sayang, lagi cari duit buat kamu. Kamu pulang aja ya.”
“Tapi, Ningrum mau tidur sama ibu malam ini. Tante cariin ibu dong.”
“Duh, gak bisa Ning. Nanti Tante yang dimarahin sama ibu kamu.”

Lalu aku mulai merengek dan menangis, tak diduga pintu kamar di hadapanku terbuka, dan itu ibu.

“Wi, kamu ribut aja, ada apa sih?” Tanya ibu yang hanya memakai kemben kain batik untuk menutupi tubuhnya.
“Ini loh anakmu, No. Cariin kamu.”
“Ya ampun Ningrum, kamu tahu ibu ada di sini dari siapa?”
“Kata tetangga, bu. Bu, Ningrum mau tidur sama ibu.”
“Iya, iya sebentar.” Ucap ibu, yang kemudian masuk ke dalam kamar di depanku.

Dari dalam kamar itu ibu berbincang dengan seorang lelaki yang cuma memakai cawet saja. Dari tampang lelaki itu ia seperti kelihatan kesal.

“Hai Retno, aku sudah bayar kamu mahal-mahal! Akan kuadukan kamu dengan Hendro.” Bentak lelaki itu dari dalam kamar, tapi ibu tak mempedulikannya. Ibu menggeretku dari rumah yang penuh dengan lampu kerlap-kerlipnya itu. Dan aku hanya terdiam saja, walau sesungguhnya ada pertanyaan yang berkecamuk dalam hatiku, “Apa pekerjaan Ibuku?”

***

Setelah malam itu aku mengerti dan belajar memahami, ibuku adalah seorang pekerja seks komersil. Pantas saja, kami sering kali diusir dari rumah kontrakan yang disewa ibu, saat pemiliknya tahu atau orang-orang kampung tahu bahwa ibu seorang PSK. Kini usiaku beranjak 18 tahun setelah kejadian malam itu, malam di mana aku mendatangi ibu bekerja, ibu sering kali meminta maaf padaku atas apa yang ia kerjakan.

Dan entah kenapa aku tak pernah bisa marah pada ibu, aku justru bangga padanya. Ia membesarkanku tanpa didampingi seorang suami — ayah yang sampai saat ini aku tak mengenalnya. Ketika orang-orang memandang sebelah mata ke arah ibu, aku malah berpikir ibu adalah wanita hebat. Ibu telah berjasa membuat ego kaum adam serasa diawang-awang, membuat pria-pria merasa kuat dan jantan. Padahal mereka itu mahluk paling lemah, hanya butuh sejam dan mereka akan terkapar, begitu kata ibu. Ibu pun bercerita ketika ia harus melayani 10 Pria dalam semalaman, harus menerima pukulan karena pelanggannya yang terlalu cepat ejakulasi, bahkan ia pun pernah jadi korban sadomasokis demi meninggikan ego kelaki-lakian pelanggannya. Itu semua ia lakukan agar aku tak kelaparan dan dapat melanjutkan kuliah. Persetan dengan perkataan orang yang merendahkan ibuku, dan aku akan selalu ada paling depan membela ibu. Seperti malam di mana  Om Hendro — mucikari ibu datang ke rumah kami. Ia menagih semua hutang-hutang ibu, jika ibu ingin berhenti dari pekerjaan itu. Dengan lantang aku mengusirnya untuk tak lagi mengganggu ibu.

“Ibu, ibu memang masih punya hutang dengan lelaki tengik itu?”
“Ibu akan selalu punya hutang pada orang itu, Ning. Sekalipun sudah ibu lunasi, ia selalu punya cara agar ibu terlihat memiliki hutang. Dan mau gak mau ibu harus bekerja lagi dengannya.”
“Kenapa nggak lapor polisi aja, bu?”
“Nggak, nggak usah. Percuma, dia punya banyak beking di Kepolisian.”
“Ya udah, bu. Nanti Ningrum cari cara buat ngelunasinya.”
“Gak usah, Ning. Kamu belajar saja, jangan kecewain ibu. Pokoknya nilai kuliahmu harus bagus.”
“Iya, bu…”

***

Tanpa sepengetauan ibu, sehabis jam kuliah aku menuju rumah Om Hendro, di rumahnya penuh dengan penjaga-penjaga berwajah garang, membuat nyaliku sedikit ciut.

“Ada hal apa gadis manis, yang membuatmu datang ke rumah Om?”
“Sudah deh, Om, jangan banyak ngomong. Saya ke sini ingin membicarakan mengenai hutang-hutang ibu.”
“Ya, baiklah. Jadi kamu punya uang berapa?”
“Saya tidak punya uang, tapi saya punya tubuh, jika boleh saya akan bayar dengan tubuh saya.”
“Woww… woww… Tentu boleh sayang. Sangat boleh.” Ucapnya sembari mengelus-elus tengkuk leherku.
“Kalau begitu nanti malam saya ingin Om datang ke rumah dan bilang pada ibu, ia boleh berhenti. Tapi saya mohon jangan bilang pada ibu, saya menggantikannya. Permisi!”
“Tentu… Silakan.”

Malamnya Om Hendro benar, ia datang kembali ke rumah dan mengatakan hutang ibu lunas. Aku senang melihat rona bahagia di muka ibu.  Akhirnya ia dapat terbebas dari jerat tempat terkutuk itu.

Dan malam itu pun akan jadi malam pertama bagiku melakoni pekerjaan yang pernah di tekuni ibu selama 21 tahun. Di dalam kamar temaram, kujumpai seorang lelaki yang pantasnya kupanggil kakek. Dengan kulit keriput dan penis yang ogah-ogahan bangun, ia memandangiku yang tengah melucuti pakaianku sendiri, sambil sekali tangan binalnya menyentuh bagian sensitif di dadaku.

Di lain tempat, Tante Dewi datang ke rumah dengan membawa murka.

“Retno! Kamu ini ibu macam apa?! Kamu mau jual anakmu, untuk membayar hutang pada lelaki tengik itu?!”
Ono opo tho, wi Ono opo?
“Tadi, aku lihat Ningrum di tempat Hendro, ia masuk kamar dengan lelaki tua bangka!”
“Apa? Ningrum, Wi? Kamu gak salah lihat kan…”
“Iya, kamu gak tahu?”
“Aku gak tahu, Wi. Oh ya ternyata ini maksud dia.”
“Maksud apa? Siapa?”
“Kemarin Ningrum bilang, ia akan cari cara supaya aku gak punya hutang dan gak kerja lagi di tempat itu. Ayo susul dia, Wi.”
“Ayo, aku temeni.”

***

Brukkk…!!

Pintu kamar terbuka, sementara aku tengah berlutut melayani lelaki tua bangka di hadapanku. Ternyata yang mendobrak kamar itu ibu.

“Ningrum cepat pakai baju kamu, cepat!”
“I… Iya bu…”
“Jangan coba-coba berani mendekat!” Ancam ibu dengan menggunakan sebilah pisau pada lelaki tua bangka yang bersamaku di dalam kamar tadi.

Lalu ibu menggeretku dari rumah yang penuh dengan lampu kerlap-kerlip itu, seperti dulu. Dan kulihat di halaman depan, Om Hendro sudah terkapar bersimbah darah dan di tangan serta pakaian ibu  pun banyak noda darah.

Malam itu juga, ibu dijemput Polisi, di rumah.

“Ibu…” Ucapku lirih, sambil memegangi tangan ibu dan tak ingin kulepaskan.
“Sudah tak apa, Ning.”
“Ibu, kenapa ibu lakukan ini?”
“Kamu itu kupu-kupu ibu, dan sebisa mungkin ibu akan menjaga sayapmu agar tak robek. Supaya kamu dapat terbang tinggi dan jauh. Tak seperti ibu, Ning. Sudah tak apa, ibu sudah terbiasa dengan sayap ibu yang robek ini”
“Ibu maafkan Ningrum.”
“Ibu yang harusnya minta maaf. Wi, tolong jagain Ningrum ya.”
“Tenang aja, No. Ningrum sudah kuanggap anak sendiri.

Kemudian mobil polisi mulai bergerak menjauh.

“Ibu….”

****

terinspirasi dari lagu Peterpan – Kupu-kupu Malam

2 thoughts on “Kupu-kupu Itu Bernama Ningrum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s