Surat Terakhir: Kepada Hati yang Berbahagia

Detik-detik semakin berdenting ngilu di ujung telingaku. Mengabarkan apa yang sebenarnya tak ingin aku dengarkan. Kian dekatnya waktu, nyeri itu justru semakin nyata dari tubuh dan kata-katamu yang maya. Sekiranya waktu dapat terhenti dan terulang kembali, aku tak ingin benih yang terjatuh tanpa sengaja di hatiku tumbuh menjadi bunga liar seperti saat ini. Tanaman yang ranting-rantingnya telah melekat merambati hati, dan akar-akarnya telah menghunjam menembus logika.

Dan sekarang aku mencoba menjadi orang paling naif di dunia, membunuh cemburu di kepalaku dan mengibarkan bendera kemenangan bahwa aku baik-baik saja. Dan sekarang aku akan mencoba menjadi orang yang paling munafik, menafikan cahayamu di sisa malamku yang nyaris tuntas dan membiarkan tubuhku tercekam dalam selimut gulita.

Aku ingin sekali memangkas ranting-rantingmu, dan memotong akar-akarmu berkeping-keping, lalu membakarnya dan membuangnya sejauh mungkin. Agar tak lantas jadi belukar di dadaku. Tapi aku tak pernah bisa, tak bisa melihatmu mati perlahan-lahan di hatiku.

Jadi, kumohon janganlah menjauh dariku. Biar aku saja yang menjauh darimu, lalu biarkan mereka mengatakan akulah yang telah mencampakkanmu. Bukankah aku telah terbiasa menggarami luka ku sendiri. Dan bila suatu saat nanti aku bertanya kabar padamu, aku mohon jangan kau menjawab. Satu huruf sekalipun. Abaikan pertanyaanku.

Kini detik-detik itu semakin lentang berteriak di telingaku. Bahkan sekalipun aku menutup sepasang telingaku dengan tanganku, gemanya justru semakin menghentakkan dada. Terakhir, biarkan aku menggumamkan namamu untuk terakhir kalinya malam ini dalam senyap yang paling lirih. Jadilah yang paling sempurna untuknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s