Saya Ingin Pulang, Bu.

Hari begitu saja menua, Bu.
Tanpa senyummu yang biasa membingkiskan mentari ke dalam saku kemeja saya.
Hari kini begitu temaram, Bu.
Hanya pada pelita bercahaya ingatan kamu antar saya menyeberangi sungai-sungai yang mengaliri detik-detik perpisahan, meniti titian penjal rindu. Menuju diorama surga yang saya sebut impian.

Hari begitu saja mengabu, Bu.
Tak adalagi bingkai pelangi yang kamu pintal di atas kubah langit saya.
Yang dulu kamu sebut hadiah terindah, sebab kita dapat menaklukkan badai kehidupan dengan legitnya senyuman.

Dunia kini tak saya kenali, Bu.
Saya terasing!

Bahkan di dalam kamar saya sendiri. Kamar yang menyimpan jutaan potret tentang masa kecil — Saat saya mengencingi kain batik kesayanganmu, atau ketika kamu tertawa geli di sela-sela tangis saya yang kamu anggap lucu.

Dunia tak lagi sama untuk saya, Bu.
Hari kini telah berbeda.
Saya ingin pulang, Bu. Ke rumahmu, ke dadamu, ke matamu.
Kemanapun itu. Tempat yang tak pernah menganggap saya asing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s