Jokja… Joke ya…

24 Januari 2012

Kepada Jokja…

“…Bila kau datang dari selatan, langsung saja menuju Gondomanan, belok kanan sebelum perempatan. Teman-teman menunggu di Sayidan…”

Kira-kira seperti itulah penggalan lagu Shaggy Dog, Sayidan. Dan sampai detik di mana saya menulis surat ini untukmu, Jokja. Saya tidak pernah menemukan tempat yang bernama Sayidan, entahlah di mana tempat itu berada.

Jokja, selalu ada cerita darimu terekam dalam ingatan saya. Betapa istimewanya dirimu, pantas saja KLa Project mengabadikanmu dalam syair lagunya. Saya sampai bingung tempat mana yang menjadi tempat  yang ter-istimewa darimu, karena tiap sudut-sudut kotamu menyimpan keunikan tersendiri.

Tapi bila aku berkunjung ke Jokja, saya takkan pernah melewatkan dua tempat yang begitu iconic dengan Jokja. Pasar Bringharjo dan tentunya Malioboro. Kalau ke Jokja belum ke tempat ini, rasa-rasa kurang afdol. Ya, padahal sih pasar Bringharjo sama saja dengan pasar-pasar lainnya dan Malioboro pun demikian, sama saja dengan kawasan PKL di tempat lainnya. Mungkin suasananya yang jadi pembeda. Dokar-dokar di sepanjang jalan Malioboro, simbah-simbah penjual jajanan pasar di Bringharjo yang memakai ‘jarik’ lusuh namun tak pernah alpa memberi senyum ramah pada pembeli dan sesekali memperlihatkan gusi tak bergiginya ketika ‘mengguyu’. Entahlah, mungkin itu ciri khas keramah-tamahan Jokja, setidaknya untuk saya.

Bila membicarakanmu, Jokja. Aku tak bisa membantah pernah ada pucuk-pucuk asmara yang bersemi di kota kamu. Pantai Glagaharjo, menjadi saksi bisu cinta tumbuh di seberang keimanan. Tapi saya tak akan membicarakan hal tersebut, saya hanya ingin mengingat kamu sebagai kebahagiaan dan kebaikkan-kebaikkan saja yang pernah kamu berikan kepada saya, Jokja.

O ya, Jokja! Pengalaman seru bersama Ibu pun pernah tergurat di kota kamu. Entah apa nama jalannya, saya lupa. Saya bersama Ibu ketika itu mampir di suatu warung yang menjual sate. Malam itu Jokja diguyur hujan deras. Kami niatnya hanya berteduh di warung itu, tapi harum bakaran sate membuat selera makan saya timbul. Dan Ibu pun memesan 2 porsi sate, setahu Ibu saya itu hanya sate ayam biasa. Kami melahapnya. Tidak ada yang aneh sampai saat Ibu membayar sate tersebut dan kata penjualnya itu sate kelinci. Saya dan Ibu saling menatap, tak habis pikir hewan yang lucu dan imut itu berada di perut kami. Tawa renyah terbahak-bahak si penjual itu menyadarkan kami yang masih tertegun, sambil berkata “Ini Joke ya…” ah, rupanya penjual tadi hanya mencandai kami, salah satu lagi ciri khas Jokja, candaan atau joke . Pengalaman yang menarik yang tak terlupa, kamu berikan pada saya dan Almarhumah Ibu saya. Terima kasih, Jokja.

Dan saya pernah bercita-cita, kelak ketika saya menua, saya ingin sekali menghabiskan masa tua saya di pangkuanmu, Jokja. Bukan di kotanya, tapi di desa kecil Samigaluh. Di kelilingi petak-petak sawah, dan ditemani bunyi jangkrik tiap malam.

Jokja, mungkin saya telah jatuh cinta pada kamu berkali-kali.

“Walau kini kau t’lah tiada tak kembali, namun kotamu hadirkan senyummu abadi. Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi, bila hati mulai sepi tanpa terobati…”

*Lagu Kla Project mengalun, mengisi ruang dengar saya saat menulis surat ini*

Tertanda,

Catur Indrawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s