Seluruh Napas Ini

Gitar akustik itu masih kugantung  di dinding kamar tidurku. Entah mengapa aku tidak melakukan tindakan apapun pada gitar itu, Membantingnya sampai hancur misalnya. Atau membuangnya jauh-jauh, atau lagi memberikannya pada orang yang membutuhkan. Kupandangi lagi gitar itu, gitar yang berada tepat di atas meja belajarku. Sudah setahun gitar itu di sana, belum pernah sekalipun aku memainkannya, dikarenakan aku memang tak bisa memainkan gitar. Hanya sesekali kalau ingat kubersihkan dari debu-debu yang melekat, setelah itu kugantung kembali. Memandang gitar itu, rasanya seperti mengalami kembali suatu peristiwa yang ingin segera kulupakan, mengingatkanku pada Andra yang sekarang tak pernah kuketahui keberadaannya. Ya, Andra, seorang lelaki yang berhasil mencuri hatiku. Ia kekasihku setahun yang lalu sampai akhirnya peristiwa itu terjadi yang membuat kami tak saling bertemu kembali.

Aku mengenal Andra di pesta ulang tahun seorang teman. Andra adalah gitaris sekaligus vokalis sebuah kelompok band yang waktu itu diundang oleh temanku untuk memeriahkan pesta ulang tahunnya. Saat itu aku terpana padanya, suara Andra yang menyanyikan lagu Separuh Nafas Ini milik Last Child begitu merdu terdengar di telingaku. Waktu bandnya beristirahat, kuberanikan diri menyapanya. Dalam waktu singkat kami pun cepat akrab. Andra ternyata enak sekali diajak ngobrol, terutama tentang musik. Andra menceritakan tentang dirinya, seakan-akan aku sudah lama dikenalnya. Andra begitu terbuka, itulah yang membuatku semakin mengaguminya. Andra tak malu-malu menceritakan pengalaman hidupnya, bagaimana ia harus menghidupi dirinya dan membiayai kuliahnya sendiri. Kedua orang tuanya bercerai. Masing-masing kembali ke daerah asalnya di desa, sementara Andra terpaksa harus tinggal di kota ini menyelesaikan kuliahnya. Andra memang tak mau menentukan untuk ikut salah satu dari kedua orang tuanya.

“Untunglah ada band ini yang menjadi tumpuan hidupku. Hasilnya lumayan untuk bayar kost, biaya kuliah, dan makan sehari-hari. Beginilah hidupku sekarang, pasti berbeda 180 derajat denganmu ya, Rin?” Kata-kata Andra saat di pesta ulang tahun temanku, masih kuingat.

“Main saja ke rumah! Biar kau tahu kehidupanku.” Tawarku waktu itu.

“Baiklah, di mana alamat rumahmu?”

Kusebut alamat rumahku dan Andra sibuk menulisnya setelah terlebih dahulu meminjam bollpoint pada salah satu temannya.

***

Andra benar-benar datang ke rumah. Waktu itu malam minggu, kedua orang tuaku sedang santai di ruang tamu. Sekalian andra kuperkenalkan pada kedua orang tuaku.

“Andra ini vokalis dan gitaris sebuah band di kota ini lho, Pa, Ma!” Kenalku.

“Wah hebat dong, semoga dapat masuk dapur rekaman dan terkenal ya.” Puji Papa yang kemudian mengajak Mama pindah ke ruang keluarga.

Andra tampak grogi waktu menghadapi orang tuaku, ada kesan minder sewaktu ia melanjutkan obrolan denganku. Mungkin dia tak menyangka rumah orang tuaku semewah ini. Sebagai salah satu anggota DPRD, tentu saja Papaku memiliki penghasilan yang cukup besar. Rumah mewah ini dan sebuah mobil yang cukup mahal berhasil jadi bagian keluargaku.

“Kau kelihatan kikuk, Ndra?” Tanyaku waktu itu.

“Be… benar Rin. Aku tak menyangka kau anak orang kaya. Pejabat lagi.”

“Ah yang kaya orang tuaku kan, aku sendiri belum mempunyai apa-apa. Cari uang seribu rupiah saja aku belum bisa. Sedang kamu sudah bisa mencari uang sendiri ratusan ribu.”

Selanjutnya aku dan Andra bisa dikatakan pacaran, walau tak ada kata-kata cinta yang terucap dari mulut kami. setidaknya kebersamaan dan sikap kami berdua yang saling memperhatikan telah menunjukkan  kalau kami saling menyukai. Kebersamaan kami pun berlanjut seiring perjalanan waktu, sampai pada akhirnya kejadian yang mengagetkan menghampiriku.

Sore itu Papa pulang dengan marah-marah sambil menenteng sebuah gitar, Papa memanggilku.

“Rina lihat ini! Si Andra itu ternyata anak yang brengsek. Dulu katamu dia vokalis sekaligus gitaris sebuah band. Nyatanya, dia hanya seorang pengamen jalanan yang berandalan. Lihat mobil Papa digoresnya waktu dia ngamen di perempatan lampu merah, karena Papa gak memberinya uang. Nih tadi gitarnya Papa sita!” Kata-kata Papa penuh luapan emosi.

Masa Andra mengamen di perempatan lampu merah sih, aku setengah tak percaya, Andra pernah bilang padaku kalau ia takkan mau jadi pengamen.

“Pengamen jalanan itu sebenarnya merusak image penyanyi. Dia merendahkan derajat pemusik dan penyanyi dengan imbalan uang recehan. Tak jarang ia agak memaksa saat mengamen. Aku tak mau jadi pengamen walau terpaksa sekalipun.” Itu kata-kata Andra yang pernah ia ucapkan padaku.

Benarkah Andra melanggar kata-katanya sendiri? Untuk mencari kebenaran hal tersebut, aku mendatangi basecamp bandnya Andra. Ternyata bandnya sudah bubar karena bangkrut. Personilnya mencari jalan hidup sendiri-sendiri. Begitu kata pemilik rumah yang dijadikan basecamp bandnya Andra.

Andra tak pernah lagi datang ke rumah, akupun telah berusaha mencarinya. aku ingin mengajaknya meminta maaf pada Papa, namun Andra seperti hilang tertelan bumi. Gitar Andra yang disita Papa kemudian kugantung di dinding depan meja belajarku. Gitar itu jadi kenangan, entah sampai kapan aku akan menggantungnya. Mungkin sampai Andra datang dan mengambilnya kembali. Mungkinkah itu?

Aku tersadar dari lamunku, kualihkan pandanganku dari gitar kenangan itu. Kini kuraih CD lagu-lagunya Last Child. Kepingan bundar itu kumasukkan ke CD Player dan kutekan nomor lagu ‘Seluruh Nafas Ini’ Last Child di remote control yang sudah kuhapal. Mengalun lirik-lirik kenangan yang dulu sempat kukagumi dari mulut Andra.

Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Aku tak akan lupa tak akan pernah bisa
Tentang apa yang harus memisahkan kita

Di saat ku tertatih tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini

Kita telah lewati rasa yang pernah mati
Bukan hal baru bila kau tinggalkan aku
Tanpa kita mencari jalan untuk kembali
Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku

Di saat ku tertatih tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

Jika memang kau terlahir hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini

Dan ini yang terakhir (aku menyakitimu)
Ini yang terakhir (aku meninggalkanmu hooo..)
Tak kan ku sia-siakan hidupmu lagi
Ini yang terakhir, dan ini yang terakhir
Tak kan ku sia-siakan hidupmu lagi

Jika memang dirimulah tulang rusukku (terlahir untukku)
Kau akan kembali pada tubuh ini (bawa hatiku kembali)
Ku akan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini

Jika memang kau terlahir hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini


SELURUH NAFAS INI – LAST CHILD http://youtu.be/Ske9Nwk-TmA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s