Mati Terbunuh Rindu

Sebatang rokok yang hampir padam baranya, sebuah asbak penuh abu hasil pergulatan rindu. Dan kamu yang masih membisu dalam guratan penaku. Cinta, aku tak lagi dapat menuliskanmu. Bahasaku beku, kata-kataku kelu.

Waktu semakin padat, memepatkan segala ingatan tentang kenanganmu yang sungguh ingin sekali aku musnahkan. Namun berkali-kali pula ia yang menghidupkanku.

Asap rokokku tak lagi mengudara dalam ruang persegi empat dengan ventilasi tertutup rapat. Dan segelas kopi pekat masih perawan, sedari tadi bagai hiasan di pojokan meja makan. Tak tersentuh tangan binalku yang biasanya semangat menggagahi aroma banal kopi buatanmu.

Frasa terpaku pada rindu yang tak bisa mengaduh, sementara metafora berkhianat, entah kemana. Sepenggal malam, celoteh hilang. Aku mati terbunuh rindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s