Sahabat

Semarang 29 Januari 2012

Kepada sahabat terbaikku, Mei Listia Triani.

Mei, aku masih mengingat tatapanmu di penghujung senja, di bulan Desember tujuh tahun lalu. Aku masih mengingat dengan jelas, saat pundakmu yang mungil mendekat lekat di dadaku. Aku berusaha tegar ketika itu, aku berharap dapat menjelma seperti karang kokoh di antara riak-riak gelombang perpisahan yang menggulung gulungmu dalam gelung  kesedihanmu.

Mei, betapa menyesalnya aku tak peka merasakan apa yang ada di hatimu, yang kerap kau sebut kesepian itu. Sebab selama ini kulihat kamu baik-baik saja. Andai saja aku tahu lebih awal, mungkin kamu takkan meninggalkan kota ini. Tapi, aku tak sepenuhnya meyakini alasan-alasanmu cuma hanya kesepian saja. Aku, ibuku, bukankah telah menganggapmu keluarga. Ada perihal yang belum kamu bagiku kepadaku, Mei. Entah apa itu.

Kau tahu, Mei? Semenjak sepeninggalanmu, aku seperti tawanan perang, tengah menghitung detik-detik yang bergerak serupa kereta uap tua pengangkut ber-ton batubara. Kemana, di mana, sedang apa, itu pertanyaan-pertanyaan yang hilir-mudik menghantui kepalaku.

Ah, betapa bodohnya aku senja itu, terlalu meratapi perpisahan yang kamu ciptakan, sampai-sampai aku lupa meminta alamat rumahmu di Purwokerto sana. Untung saja temanmu, Purba Aditya punya alamatmu, jadi aku meminta padanya. Sayangnya, setelah kudatangi kotamu dan menuju alamat yang diberikan Purba, kamu pun sudah pindah dari tempat itu.

Aku mencarimu, Mei, sampai saat ini. Semua teman-temanmu telah kutanyai, tapi tak ada satupun yang tahu keberadaanmu. Habis sudah daya-upayaku, yang kubisa sekarang hanya mencarimu melalui dunia maya, kali saja aku dapat menemukanmu. Entah sudah berapa banyak aku menuliskan namamu dalam kotak pencarian di google atau situs-situs lainnya, namun tetap saja nihil hasilnya.

Mei, kalau sewaktu-waktu kamu membaca surat ini. Bisakah sejenak kamu mengingatku, mengingat masa-masa awal pertemuan kita di kegiatan Ospek Politeknik Kesehatan Semarang. Kamu ingat saat kita dihukum oleh kakak-kakak senior, kamu telat datang karena kamu harus mempersiapkan perlengkapanku di asrama. “Dasar gadis bodoh, kenapa kamu lakukan itu untuk aku, yang pada akhirnya membuatmu harus kena hukuman juga.” Kataku saat itu, dan kamu hanya tersenyum.

Mei, akupun masih ingat nasehatmu padaku. Kau bilang, aku gak boleh terlalu manis kepada seorang gadis selama aku tak sungguh-sungguh menaruh hati padanya. Nasehatmu itu selalu aku ingat Mei.

Mei, kalau kamu ke Semarang mainlah ke rumahku. Aku belum pindah, masih di bertempat tinggal di rumahku yang dulu yang pernah kamu datangi. O ya, ada titipan dari ibu untukmu dan ada beberapa barang milikmu yang tertinggal di kostan, aku simpan dan berharap kamu datang untuk mengambilnya.

Mei, di manapun kamu berada, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.

Sahabatmu,

Catur Indrawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s