Falling in Love at A Coffee Shop

Seperti biasa, pagi ini aku datang lebih dulu dari kawan-kawanku yang lain. Sebab itu mereka menjulukiku sebagai Tuan Teladan. Julukan yang berat sekali kusandangnya. Oh ya namaku Rizaldi, tapi kawan-kawanku di Coffee shop lebih sering memanggilku Izal. Aku kerja di Coffee shop ini sudah hampir 2 tahun. Walau gajinya tak seberapa tapi cukuplah untuk tambah-tambah uang saku kuliahku, selain itu aku betah dengan suasana kerja di sini.

Hari semakin siang. Satu persatu customer berdatangan menghabiskan waktu makan siang atau sekedar kongkow-kongkow. Dari meja nomor 6 seorang wanita menjentikan jarinya, sebagai isyarat ia ingin memesan sesuatu.

“Selamat siang, Mbak. Mau pesan menu apa hari ini?” Sapaku dengan ramah dan dibalas dengan senyumnya.

“Ah kamu Zal, seperti biasalah. Red Velvet Cake dan Iced Vanilla latte ya. Jangan pake lama. Hehehe…” Ucapnya.

“Siap…”

Wanita itu pelanggan setia Coffee shop ini. Namanya Mbak Fristia, ia seorang Direktur Marketing di sebuah Perusahaan Property. Ia single parent dengan satu orang anak perempuan bernama Kania. Hubunganku dengan Mbak Tia, ya itu panggilan akrabnya, cukup dekat. Beberapa kali aku jadi supir pengganti saat ia sedang mabuk berat. Ia tinggal sendirian di Apartemen di bilangan Thamrin sedangkan anaknya tinggal di Bandung bersama neneknya. Mbak Tia orangnya sangat baik padaku, ia royal memberikan tips. Sebab itu sekalipun ia sedang mabuk berat dan hilang kesadaran sedikit pun aku tak berani macam-macam terhadapnya.

“Red Velvet Cake dan Iced Vanilla Latte.” Kataku sambil meletakkan menu yang di pesan Mbak Tia.

“Thank you, Izal…”

“Selamat menikmati Mbak.” Ucapku dan bergegas menuju meja lain.

***

Tiiin… Tiiiiinn… Bunyi klakson berkali-kali dari arah belakangku, aku kira orang jahil, ternyata itu mobilnya Mbak Tia. Lalu berhenti di sampingku yang tengah di trotoar menuju arah kostanku.

“Zal, baru pulang?”

“Iya, Mbak.”

“Yuk sekalian, Mbak antar.”

Waduh diantar sama Mbak Tia sampai kostan, bisa-bisa anak kost berpikiran aneh-aneh tentangku. Pikirku saat itu.

“Sudah yuk, kita kan searah.” Paksa Mbak Tia.

“Baik Mbak.”

Selama di perjalanan Mbak Tia bercerita banyak tentang lika-liku hidupnya, pekerjaannya, dan buah hatinya Kania. Ia begitu merindukannya, sudah 9 bulan ia belum bertemu Kania. Kalau sudah rindu sedemikian berat pada anaknya itu, ia sering lepas kontrol dan banyak menghabiskan waktu di Pub-Pub. Seperti malam ini, sebenarnya ia hendak pergi ke Pub. Tapi di jalan lebih dulu bertemu denganku, lalu diurungkanlah niatnya tersebut.

“Hmm… Terima kasih Mbak. Sudah diantar sampai kost.”

“Hehehe gantian. Biasanya saat aku mabuk, kamu kan yang sering mengantar aku. Besok kamu off kan, Zal? Main-mainlah ke Apartemen Mbak, ya Mbak tunggu lho.”

“Iya, Mbak off. Tapi besok aku ada kuliah sampai jam 7 malam.”

“Ya sudah datang aja ya, Mbak mau ngajak kamu dinner. Mau yah?” Pintanya.

“Hmm… Baiklah. Hati-hati mabak.”

“Iya, dadah-dadah Izal.”

***

Ting… Tong… Jam 7.15 aku sudah berdiri di depan kamar Apartemennya Mbak Tia. Pintu perlahan-lahan dibuka. Mbak Tia menyambutku dengan senyum manisnya, dengan mengenakan Dress backless berwarna biru, Mbak Tia terlihat cantik.

“Mbak cantik sekali.”

“Terima kasi, Zal. dan Terima kasih juga mau datang. Pasti capek kan, pulang kuliah disuruh mampi ke sini?”

“Ahh, nggak kok Mbak. Seneng malah.Kan makan gratis. hehehe…”

“Kamu Zal, bisa aja. Yuk, udah laper kan. Tuh Mbak buat masakan spesial untuk kamu.”

“Wah… Ini Mbak yang buat semua?”

“Iyalah, kamu gak percaya?”

“Percaya kok Mbak.”

Sejujurnya aku baru kali ini Candle Light Dinner. Sesaat agak rikuh, apalagi di hadapanku ada seorang wanita yang tidak hanya cantik, tapi berkharisma. Dan sudah sejak lama aku menaruh hati pada wanita di depanku ini. Sejak ia pertama kali datang ke Coffee shop tempatku bekerja dengan seorang anak kecil yang belakangan kuketahui itu Kania. Aku suka caranya memperlakukan waiter saat ia memesan menu, bukan terhadapku saja ia manis. Dapat di bilang ia pelanggan yang sering kami tunggu di Coffee shop.

“Bagaimana masakan, Mbak, enak kan? Harus bilang enak kalau nggak Mbak gak mau masakin kamu lagi.”

“Mbak mau masakin aku lagi? Cihuy… Enak Mbak!”

Lalu aku dan Mbak Tia menuju balkon Apartemen, di sanalah aku pertama kalinya mencium bibir seorang wanita.

“Mbak, maaf aku ke bawa suasana.”

“Hehehe nggak Apa-apa, Zal. Kamu lucu ya. Mukamu merah tuh.”

“Mbak nggak marah?”

“Kenapa harus marah? Memangnya kamu memukul Mbak? Nggak kan. Kamu itu cuma mencium Mbak. Hmm… itu ciuman pertamamu ya?”

“Aaaarrrgh… Mbak Tia. Jangan buat aku malu deh.”

“Berarti Mbak yang harus minta maaf nih. Kasihan Pacar kamu, ciumannya Mbak ambil duluan.”

“Aku gak punya pacar kok, Mbak.”

“Hmm… Kenapa? Kamu Normal kan?” Selidik Mbak Tia.

“Normal-lah Mbak. Kalau Gak normal mana mungkin aku bisa jatuh cinta dengan Mbak Tia.” Ucapku. Keceplosan.

“Apa? Kamu Jatuh cinta sama Mbak. Sejak Kapan?”

“Sudah Mbak lupakan. Sudah malam, takut gak ada bus. Aku pulang ya Mbak.”

“Heiii… Zal, kamu belum jawab pertanyaan Mbak!”

Lalu aku bergeges keluar dari Apartemen Mbak Tia. Aku malu.

***

“Zal, meja nomor 6 tuh order.” Kata Ardi.

“Lo aja deh, Di.”

“Kenapa lo, itu Mbak Tia lagi.’

“Iya udah tau, karena itu Mbak Tia makanya lo aja.”

“Kenapa sih lo, biasanya elo yang paling getol sama Mbak Tia. Aneh lo hari ini.”

Dan Ardi pun akhirnya yang melayani Mbak Tia. Sedang Aku cuma melihat dari balik pintu.

“Siang Mbak, ingin pesan menu apa?”

“Lho, Izalnya mana?”

“Izal? Tadi ada keperluan lain Mbak.”

“Ohh, ya sudah Espresso saja. Oh ya kalo ada Izal tolong beritahu nanti malam sebelum ia pulang, katakan  saya ingin bicara dengannya di sini.”

***

Jam di dinding sudah menunjuk ke angka 23.00. Seperti yang tadi siang Ardi bilang katanya ada hal penting yang ingin Mbak Tia bicarakan kepadaku. Aku duduk di meja nomor 6, tempat Mbak Tia biasa duduk. Namun tak beberapa lama, wanita dengan cardigan warna biru datang dan duduk di hadapanku. Mbak Tia.

“Soal yang semalam, maafkan aku Mbak. Aku keceplosan. Tak seharusnya aku berkata demikian. Seharusnya aku ngaca siapa aku, menyukai wanita seperti Mbak. Aku gak pantas.”

Dengan tiba-tiba Mbak Tia meletakkan jemari telunjuknya di bibirku.

“Sssttt… Kamu gak boleh ngomong seperti itu Izal. Mbak gak marah. Mbak cuma agak kaget aja. Mbak seneng kamu berani jujur, jadi Mbak tahu perasaan kamu. Dan ternyata perasaan yang kamu rasakan sama seperti halnya yang Mbak rasa. Tapi Mbak gak cukup berani mengatakan itu kepadamu, Zal. Kamu tahukan selain Mbak wanita, usia kamu dan Mbak terpaut cukup jauh 6 tahun selain itu Mbak juga single parent. Mbak nyadar dirilah.  Dan rupanya kamu lebih berani dari Mbak.”

“Jadi maksud Mbak, Mbak suka juga sama aku?”

Mbak Tia tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala. Lalu kemudian kugenggam erat tangannya.

“Sekarang kita jadian dong, Mbak?”

“Iya, tapi jangan panggil Mbak lagi.”

“Iya Mbak, eh, Iya Tia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s