Di Balik Awan

Aku melangkah memasuki rumah berwarna biru yang di depannya terpancang tenda berwarna hijau. Lalu di depan gerbang rumah itu terjuntai sepasang janur kuning. Tapi entah kenapa aku merasakan aura duka yang mendalam saat menujunya, bukankah seharusnya janur kuning melambangkan sebuah adanya perayaan kebahagiaan sepasang insan. Aku masih berdiri di tengah pintu masuk rumah itu, di antara keriuhan orang-orang yang sedang merapikan kursi-kursi dan meja-meja. Aku mencoba bertanya pada sekumpulan ibu-ibu yang juga tengah merapikan kue-kue di atas meja. Tapi mereka seperti tak menghiraukanku. Walau dengan nada setengah teriak, pertanyaanku tetap saja tak dijawabnya. Aku mencari tahu sendiri, lantas kaki-kaki membawaku ke sebuah kamar yang sudah dihias sedemikan cantiknya. Kamar pengantin. Kudapati ada dua wanita, tengah berpelukan. Salah satu dari mereka masih mengenakan kebaya dengan make up yang tertata anggun dan wanita satunya sekalipun sudah terlihat keriput di dahinya, tapi masih terlihat keanggunannya.

“Bu, bu Aisyah ada telepon dari Rumah Sakit.” Kata seorang wanita yang tiba-tiba masuk dan menubrukku yang sedang berdiri di depan pintu kamar itu. Namun entah kenapa wanita itu bisa menembus tubuhku.

Di tengah keherananku, wanita tadi kembali menubrukku dan ibu Aisyah pun demikian, keluar dari kamar itu. Tinggalah hanya seorang wanita cantik berkebaya warna hijau, menangis sesunggukkan.

“Adita…” Ucapku. Adita tak mendengar, dan masih saja menangis.
“Adita, ini aku, Adam. Kau tak melihatku?” Ucapku lagi. Kali ini Adita menoleh ke kanan, ke kiri seperti mencari sesuatu. Aku makin bingung. Kembali coba kuingat apa yang terjadi setelah akad nikah tadi pagi dengannya.

Beberapa saat setelah Akad Nikah

“Saya terima nikah dan kawinnya Adita Septiani Putri Hermawan binti Hermawan Sanjaya dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar Rp 230,712 dibayar tunai.” Ucapku. Lantang.

“Bagaimana saksi-saksi, sah?” Tanya penghulu pada seluruh tamu dan saksi-saksi.

“Sah!”

Koor ‘sah’ dari para tamu dan saksi-saksi seperti melepas seluruh beban di kepalaku. Setelah penghulu mebacakan doa, Adita dipanggil untuk menemuiku yang sudah tak sabar menatap kecantikannya. Kini aku halal baginya pun demikian dengan dia terhadapku. Dari balik tirai yang tersingkap di kamarnya ia melangkah ke arahku, dan tersenyum padaku. Senyum pertama kali sebagai seorang istri. Kebahagiaan itu tak berlangsung lama, setelah seorang pria di barisan paling belakang menembakan senjata apinya ke arah Adita, dengan sigap aku menghalangi peluru itu menembus tubuh Adita. Kujadikan tubuhku tameng hidup untuk Adita. Pria itu yang tak lain mantan kekasihnya Adita, tak hanya sekali meletuskan pistolnya, aku mendengarnya 3 kali sampai pada akhirnya tubuhku tergeletak di pangkuan Adita dan semua gelap.

***

“Aku sudah mati?” Tanyaku pada diriku sendiri. “Belum, aku belum mau mati. Aku belum memberikan kebahagiaan pada Dita, Tuhan. Kumohon beri aku kesempatan.” Pintaku.

“Mas, mas Adam-kah itu? Aku bisa rasakan kamu ada di sini mas.”

Adita mencari-cari keberadaanku. Dengan mata berkaca-kaca seluruh kamar diterokanya. Kusentuh pipinya yang basah karena air mata, dan sepertinya ia merasakan sentuhanku.

“Sing sabar, nggih cah ayu.” Kata seorang lelaki yang tak lain ayahnya.
“Mas Adam bagaimana keadaannya, Yah? Mas Adam bagimana?!” Tanya Adita dengan bibir gemetar.

Ayahnya tak dapat berkata-kata lagi, ia hanya mendekap erat tubuh anaknya yang baru saja dinikahinya.

“Mas Adam bagaimana, yah?” Tanyanya lagi.

“Adam sudah pergi, nak. Adam sudah pergi.”

Jawaban itu seketika meledakkan tangis Adita yang sudah reda. Aku hanya bisa berdiri di salah satu sudut kamar itu, kucoba memeluknya tapi tak pernah dapat menyentuhnya. Dan dari belakangku datanglah sosok malaikat menjemputku.

“Sudah saatnya Adam. Kau harus kembali ke Robmu.” Ucap malaikat itu.

“Tapi, Tapi bisakah kau beri aku kesempatan sekali saja, Tuan malaikat.” Pintaku.

“Bukan kewenanganku memberimu kesempatan. Aku hanya ditugaskan menjemputmu dan mengantarmu ke Barzah.”

“Aku mohon, Tuan malaikat. Aku hanya ingin ucapkan sepatah kata terakhir pada istriku tercinta itu.” Pintaku lagi.

Lalu terdengar dering seperti suara ponsel dari saku Tuan malaikat.

“Laksanakan. Baik. Siap. Siap. Laksanakan.” Malaikat itu seperti sedang bercakap-cakap dengan atasannya.

“Kau patut bersyukur memiliki hati dan cinta yang baik. Kau diberi kesempatan…”

“Aku tak jadi mati, Tuan malaikat?” Wajahku sumringah.

“Tidak. Kamu tetap dipanggil hari ini juga. Tapi kamu diberi keistimewahan untuk mengucapkan kata selamat tinggal pada istrimu itu.”

Wajahku memurung kembali.

“Sudahlah syukuri saja. Jarang-jarang Tuhan memberi manusia hal demikian.” Tuan malaikat menasehatiku sembari menepuk bahuku.

“Jadi kapan aku bisa berbicara dengannya?”

“Sebentar lagi. Sampai ayah istrimu keluar dari kamar ini.”

Sesaat kemudian benar saja, ayah Adita meninggalkannya sendirian di kamar. Lalu tampaklah wujudku.

“Dita. Adita ini aku.”

“Mas, mas dimana kamu?”

“Aku di belakangmu.”

Lalu Adita menoleh ke arahku dan berlari hendak memelukku. Tapi sayangnya, tubuhku tak lagi dapat dipeluk. Sudah beberapa kali ia coba tetap saja sia-sia.

“Mas aku tak bisa memelukmu. Mas, kenapa dunia kejam sekali, seharusnya ini jadi hari bahagia kita.”

“Sudahlah Dit, ini takdir. Aku pun tak ingin ini terjadi. Tapi Tuhan sudah menggariskan hal demikian pada cinta kita. Adita Istriku, satu hal yang ingin sekali kukatakan dan kuharap kau menyimpannya dalam ingatanmu. Mencintai kamu, adalah keputusan terbaik yang pernah kuputuskan. Dan menjadi suamimu walau hanya beberapa menit saja adalah hal terindah yang tak sekalipun berani kuimpikan. Aku akan menunggumu datang, dan menyatukan kembali cinta kita. Percayalah sayang, aku selalu ada mengawasimu dari jauh, dari balik awan, dari balik hujan, di setiap lamunanmu, di manapun itu. Selamat tinggal, Adita manisku..”

“Mas Adam…!!! Jangan tinggalin Dita, Mas…”

Perlahan-lahan tubuhku menghilang kembali.

3 thoughts on “Di Balik Awan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s