Perayaan Tertunda

Langit sore masih tampak biru, dan sepasang kupu-kupu masih tampak asyik saling bercengkerama. Telapak kakiku yang terbungkus converse abu-abu menjejak rerumput basah. Siang tadi memang awan menjatuhkan kecil-kecil rindunya padamu bumi.

Bangku taman di depan telaga masih kosong dan terlihat semakin renta, ah sudah berapa bilangan tahun yang terlewat dan sudah berapa banyak janji-janji sepasang kekasih tertoreh di sana. Kuhampiri, memang sudah agak ringkih, beberapa bagiannya pun sudah tak pada tempatnya. Tetapi ingatan tentang masa lalu di bangku itu masih lekat membekas. Dan aku kembali, aku kembali Sachi, kutepati janjiku padamu, pada taman ini, pada telaga yang airnya masih sejernih seperti dulu.

Kududuki bangku kayu yang semakin sempit itu, menerawang jauh ke  belakang, kudapati wajah cantik Sachi dengan berhias poni dan dua kuncir di belakang kepalanya, serta pemulas bibir yang tak rapih. Aku tak pernah mempermasalahkan dia seperti apa, berdandan atau tidak ia tetap bidadari tercantik untukku. Belum habis senyum-senyum sendiri menikmati tampang lugu Sachi, tiba-tiba tepukkan di bahu membawaku kembali ke masa kini.

“Sachi…!”

Ia masih seperti dulu, berponi, berkuncir, tapi kali ini pemulas bibir yang ia pakai lebih rapih. Ah, Sachi sekarang sudah pandai berdandan rupanya. Ia sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.

“Maaf, aku lupa jalan.”  Sesalnya,  “kau sudah lama menungguku?” Sambungnya

“Aku pun tadi sempat salah jalan.” Kugeser dudukku dan mempersilakan Sachi ‘tuk duduk.  “Untuk rindu, waktu dapat dinegoisasikan kok. Jadi, aku tak tahu berapa lama menunggumu.”  Lanjut kataku.

“Kau terlihat dewasa sekarang.” Kata Sachi sembari meraba daguku dengan brewok tipis.

“Sudah berapa anakmu?” Tanyanya, sambil menjatuhkan pandang bola matanya tepat di bola mataku, seolah sedang membaca sesuatu.

“Kau juga tampak lebih cantik. Hmm, belum,  aku masih menunggumu. Aku ingin anakku lahir dari rahimmu.” Jawabku.

“Kau bohong! Kau selalu pandai menipuku dari dulu, lelaki tampan sepertimu belum beristri? Bullshit!!” Sahutnya.

“Menipumu? Menipumu bagaimana? Kau sendiri yang terlalu mempercayaiku.”

“Kau menipuku, kau berjanji akan menemuiku, saat ulang tahunku ke-17 kau tak datang. Lalu kau juga berjanji akan datang pada saat wisudaku, kau pun tak datang. Kau tahu, aku nunggu Ndra, aku nunggu! Dan sekarang sebenarnya aku sempat tak percaya kau akan datang ke taman kunang-kunang ini.”

“Maafkan aku Sachi, banyak hal terjadi dan kau tak mengetahui. Bukan, bukan maksudku menipumu, membuatmu kecewa atau apalah. Tentang ulang tahunmu yang ke-17, aku datang Sachi, aku datang ke rumahmu.”

“Lalu kenapa aku tak melihatmu saat itu? Kau bohong!” Ucapnya. Kesal.

“Aku datang Sachi, hanya sampai depan pintu gerbang rumahmu. Saat itu yang datang ke rumahmu semua berdandan mewah, sedang aku, kau tahu kan seperti apa keadaanku. Aku takut membuatmu malu.”

“Malu? Malu kenapa? Malu karena kau tak membawa hadiah untukku? Malu karena dandanmu katrok saat itu? Malu karena kau cuma anak penjual bakso langgananku?”

“Ya, maafkan aku Sachi. Selain itu kau tahu juga kan, aku tak suka keramaian. Aku di taman ini Sachi, malam itu, merayakan usia ke-17 mu bersama kunang-kunang.”

“Lantas, kenapa kau tak datang saat aku wisuda? Kau janji padaku kau akan datang ke taman ini, dan kita merayakan kelulusanku.”

“Maaf Sachi telah membuatmu menunggu. Sehari sebelum wisudamu, Ibuku pergi untuk selamanya. Sesungguhnya tiket ke Jakarta sudah ada di tanganku, namun akhirnya terpaksa penerbangan ke Jakarta kubatalkan.  Maaf gadis kecilku, andai saja kubisa menghentikan waktu dan mengulangnya kembali. Aku selalu ingin membahagiakanmu, sungguh”

“Ah kau masih saja mengingat panggilan ‘gadis kecil’ itu untukku. Hmm jadi, sebab itu kau tak datang?! Maafkan aku Andra, aku telah berburuk sangka padamu. Kukira kau sudah terpikat gadis lain.”

“Dan karenanya kau tak mau mengangkat teleponku, Sachi? Tak apa, aku memahami rasa kecewamu.”

“Iya, maafkan aku. Seharusnya kau tak perlu malu karena tak membawa hadiah. Kau perlu tahu Andra sesungguhnya kaulah hadiah terindah untukku.”

“Jangan tinggalkan aku lagi, aku takut sendirian. Janji ya, dan aku gak peduli kalau kau mau menipuku lagi. Asal jangan pernah tinggalkan aku!” kata Sachi berkaca-kaca.

Tubuhku dan tubuh Sachi kian dekat, kian rapat. Udara sore sehabis hujan semakin menambah syahdunya pertemuan sepasang kekasih yang pernah dipisahkan keadaan. Pelangi tergaris indah, membias dari telaga di hadapan kami yang saling berdekapan. Senja datang mengetuk pintu langit. Dan kunang-kunang satu per satu menghadiri perayaan cinta yang telah kembali dari masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s