Memori Tentangmu

Cerita sebelumnya lihat di sini

Bandara Ngurah Rai telah menyambut kami. Harusnya bulan lalu kami ke Bali, tetapi Ruly calon istriku ditugaskan oleh kantornya  untuk meliput acara tahunan di Banjarmasin. Aku bisa saja tak mengizinkannya, tapi aku tahu sudah sejak lama Ruly ingin meliput acara itu dan baru tahun ini ia ditugaskan ke sana. Apalagi ia pergi ke sana dengan Aldi, mantannya saat kuliah, agak sedikit mendidih hatiku saat mengetahuinya.

Selama di perjalanan menuju Hotel kami menginap, entah kenapa aku melihat wajah Ruly sedikit memurung. Semacam ada yang ia pikirkan.

“Kamu kenapa, Rul? Diam saja dari tadi.” Tanyaku.
“Eh, nggak Mas. Mungkin Aku kecapekan saja.”Jawabnya.

Yah mungkin benar ia kecapekan, sebab ia sengaja merampungkan semua tugas-tugasnya di kantor sebelum mengambil cuti.

***

Pagi, kuketuk kamar hotel Ruly beberapakali, sebelum pada akhirnya ia bukakan. Kulihat matanya agak sembab, seperti orang yang habis menangis semalaman.

“Kamu, kenapa Rul, matamu sembab begitu? Kamu sakit, kalau sakit foto preweddingnya kita tunda saja dulu.”
“Aku gak apa-apa kok, Mas. Gak usah ditunda, gak enak sama Mas Harlan kita sudah menunda berkali-kali.” Sahutnya.

Setelah merapikan diri, dan mempersiapkan beberapa pakaian, kami menuju lokasi pemotretan. Lokasinya di Pura Besakih.

***

“Oke Heru, Ruly, foto terakhir ya. Smile oke tahan, satu, dua, tiga…” Mas Harlan sang Fotographer kenalan Ruly, mengarahkan kami.

Ckreeekkk…

“Mas Harlan terima kasih ya, sudah mau bantu kami. Maaf juga sempat menunda-nunda.” Kataku.
“Ah, iya sama-sama. Dulu yang Fotoin prewed aku juga Ruly kok, jadi anggap bayar utang lah. Yuk Mas permisi.”
“Langsung balik  ke Jakarta, Mas?”
“Iya, Masih ada kerjaan di sana.” Ucap Mas Harlan yang bergegas pergi.

Setelah mengantar Mas Harlan sampai gapura, aku melihat Ruly tengah melamun duduk di atas anak tangga. Aku pun mendatanginya.

“Kamu kenapa sih, Rul, dari kemarin melamun saja. Kalau ada masalah ya mbok bilang sama aku. Aku kan sebentar lagi jadi suami kamu.”
“Nggak, Ngga ada apa-apa kok Mas, aku baik-baik saja.” Katanya sambil tersenyum.
“Yakin, gak ada apa-apa? Hatiku kok gak berkata demikian ya. Sudahlah katakan saja Rul.” Desakku.
“Tapi, janji ya Mas, gak marah.” Pinta Ruly.
“Iya, kapan sih aku marah sama kamu.”
“Mas, aku mau jujur sama kamu. Maaf sekali, Mas. Setelah pengakuan ini terserah Mas mau mengambil keputusan bagaimana, aku ikhlas.”
“Kamu ngomong apa sih, Rul.” Ucapku sambil menggenggam tangan Ruly.
“Aku, sudah gak suci lagi untukmu, Mas.” Ucapnya dengan bibir gemetar dan meneteskan air mata.
“Maksudmu?”
“Bulan lalu, saat aku ditugaskan ke Banjarmasin dengan Aldi, kejadian itu Mas, kejadian itu terjadi.”
“Apa maksudmu?” Ucapku dengan nada meninggi, dan bertanya-tanya apa yang mereka lakukan di sana.
“Aku gelap mata, Mas. Aku dan Aldi berbuat sesuatu yang tak seharusnya aku lakukan. Maafin aku, Mas. Sekarang terserah kamu, ingin membatalkan pernikahan ini pun aku ikhlas.”
“Sudahlah, Rul. Kita tenangkan dulu hati kita. Aku tidak bisa mengambil keputusan saat ini.”

***

Beberapa jam menjelang akad nikah, telah kuputuskan untuk tetap menikahinya. Aku mencintainya bukan karena selaput dara, tapi lebih dari itu. Dan tak ada satu pun yang dapat membatalkan pernikahan ini, kecuali Ruly merasa terenggut kebahagiaannya.

Di hadapanku, sudah hadir penghulu, ayah Ruly dan sejumlah saksi. Penghulu memanggil mempelai wanita keluar. Kulihat betapa cantiknya Ruly berjalan ke arahku dengan berselendangkan  kain sasirangan.

“Bagaimana, mempelai wanita sudah siap?” Tanya Penghulu.

Ruly hanya terdiam, dan Penghulu pun menanyakan lagi kesiapan dari Ruly menerimaku sebagai suaminya. Kali ini ia menjawab, dan jawabannya cukup mengejutkan aku.

“Tadi pagi, saat akan menuju ke sini Aldi kecelakaan. Dan saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.” Ucapnya, semua hadirin terhenyak, begitu pun denganku.
“Aldi itu siapa ya, mbak?” Tanya Penghulu.
“Dia ayah dari janin yang sudah 14 hari saya kandung.” Kata-katanya yang keluar dari bibirnya membuatku syok.
“Dasar!! Anak kurang ajar, memalukan keluarga!!” Ayah Ruly naik pitam.
“Maafin Ruly, Yah. Ruly khilaf.” Ucapnya sambil berderai air mata, dan aku memeluknya, menjauhkannya dari ayahnya yang akan menamparnya.
“Sudah Rul, tak apa, kalau kau tak bisa. Sungguh aku tak apa.” Aku menenangkannya.
“Maafin aku Mas Heru, Maafin.”
“Sudah Rul, aku sudah memaafkanmu. Sudah jangan menangis lagi.”

***

3 minggu setelah akad nikah yang tertunda, hari ini aku akan mengantarkan Ruly ke rumah sakit, menengok Aldi yang sudah siuman dari komanya.

“Hai, Bro’ gimana keadaannya?” Sapaku pada Aldi yang terbaring.
“Ya, beginilah. Tapi sudah agak mendingan. Ru, sorry beneran pernikahan lo batal?”
“Benar, santailah Bro’, gue yakin jodoh sudah ada yang ngatur. Rul, sini…” Kataku pada Aldi, dan memanggil Ruly yang sedang merapikan buah-buahan untuk mendekat ke arahku.
“Lo tau kan Al, kebahagiaan gue juga jadi kebahagiaan Ruly dan sebaliknya. Nah gue mau, setelah lo keluar dari rumah sakit, menikahlah dengan Ruly. Ruly masih sayang sama lo.” Ucapku sambil meletakkan tangan Ruly di atas tangan Aldi.
“Tapi, Ru…”
“Sudah Al, gue udah ngomong panjang lebar sama Ruly. Kalo lo mencintainya, buat Ruly bahagia. Dia sedang mengandung anak lo.”

Aldi hanya termenung dan menatap perut Ruly lalu mengelusnya, “Beneran Rul?”

Dan dijawab dengan anggukan kepala serta tetesan air mata oleh Ruly.

Tamat

7 thoughts on “Memori Tentangmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s