Terima Kasih, Jogja!

Cerita sebelumnya, klik di sini

BEBERAPA benda dari Asri Galery telah memadati bagasi dan kursibelakang. Pukul 16.43, mobil kami meninggalkan Prawirotaman. Sambil mengendarai Yaris merah, aku menerawang jauh ke masa lalu. Sedangkan Luna asyik dengan ponsel pintarnya. Mengabari kawan-kawannya yang menitip batik dan oleh-oleh khas Jogja.

Enam tahun yang lalu, cinta kami pun dimulai dan bersemi di kota budaya ini. Pertemuan yang tak diduga membawa kami dalam petualang cinta penuh luka dan air mata. Dan empat tahun yang berselang, masih di kota budaya ini. Bahtera cinta kami akhirnya kandas. Segala perbedaan mungkin dapat kami satukan dengan berbagai persepsi, mungkin salah satu dari kami harus mengalah agar menjadi satu. Tetapi mengenai keyakinan yang sangat prinsipil, rasanya sulit kami satukan. Tuhan memang satu, hanya namanya saja yang berbeda-beda, juga cara menyembahnya saja yang tak sama.

Tuhan pun memiliki cinta, lalu apakah kami salah saling mencintai dengan nama Tuhan yang berbeda. Itulah gerutuan kami saat itu.

Dua tahun setelahnya, kudapati undangan di atas meja kerjaku. Saat itu kami masih bekerja di perusahaan periklanan yang sama. Terhenyak seketika, pagi tak lagi cerah. Aku tak tahu sejak kapan ia memiliki pacar baru setelah putus denganku, namun yang kulihat dan terbaca dengan jelas di undangan itu adalah menikah Karenina Luna Sutoyo dengan Williardi Haryanto, pemberkatan Minggu, 18 Februari 2010 Pukul 10.30 WIB bertempat di Gereja GPIB Imannuel. Atas dasar apa aku marah, aku cemburu, bukankah semua yang diputuskan adalah keputusan terbaik? Tapi, tetap saja perih. Aku masih mencintainya, kurasa demikian pula dengannya.

Siangnya, kuajak Luna makan siang bersama, sekalian mengkonfirmasi. Awalnya ia menolak, karena dipaksa teman-teman sedivisi ia bersedia. Dari cerita yang ku dengar darinya, pernikahannya bukan atas dasar cinta tapi karena perjodohan. Ah,  ternyata perjodohan itu masih ada?

Aku tak bisa melihatnya tiap pagi diantar oleh seorang pria yang tak lain suaminya sendiri. Aku masih cinta, dan aku cemburu. Haruskah karena hal demikian membuat pekerjaanku berantakan? Aku tak ingin merugikan perusahaan, kuputuskan resign. Yah, cukup sedih. Tapi setidaknya ini baik untuk semua.

*

“hei, melamun…!” Luna menepuk lengan kiriku.
“Eh, kenapa, ada apa?” kataku.
“Diajak ngomong dari tadi, gak denger ya. Ngelamunin apa sih. Hmm,..Pacarnya nih,” Luna cemberut. Ah, kalau lagi cemberut seperti itu, makin lucu saja wanita di sampingku.
“Ah, nggak kok. Ngapain mikirin pacar, lha wong dia ada di sampingku,” candaku.
“Aaaarrgh…Sebel, Indra genit. Eh aku ngantuk, nyetir sendiri ga apa-apa ya,” sahutnya, sambil ngecup pipiku lalu ia mengambil jaketku di kursi belakang dikenakan sebagai selimut dan tertidur.

Aku dibiarkannya menyetir sendirian, melalui jalan Jogja-Magelang menapaki harapan yang baru bersamanya.

Kembali kulanjutkan lamunanku. Setelah pindah kerja, aku jarang bertemu dengannya. Beberapa kali ia SMS meminta bertemu tak pernah kubalas, hingga suatu hari sebelum bulan puasa di tahun 2011 aku mendapati kabar miris dari sahabatnya. Kata sahabatnya, Luna kerap dianiaya, suaminya over protektif. Bahkan untuk rekan kerjanya sekalipun, tak jarang dicemburui. Dan darinya pula, kudapatkan berita ia mengajukan gugatan cerai. Dengan berbagai pertimbangan, aku meneleponnya dan mengajaknya bertemu. Kami pun bertemu di warung mie jawa langganan kami saat pacaran dulu, sekalian menemaniku berbuka puasa. Banyak hal yang dia ceritakan, dan akulah mungkin orang yang mampu menopang semua beban yang ada di kepalanya. Awal September, kabar perceraiannya kudapat darinya, aku tahu ini masa-masa tersulitnya. Dan aku sebagai orang yang masih mencintainya, takkan tega membiarkannya sendiri bergelut dengan kesedihan. Ajakan liburannya tak ku tampik. Ia mengajak ke Bali, tapi aku hanya punya 4 hari libur dan Jogjalah pilihannya. Kembali menilam kenangan dan merajut harapan baru. Tentang cinta di seberang keyakinan, kupikir dengan berjalannya waktu kami pasti akan menemukan jalan terbaik. Cinta yang dewasa yang dipecahkan bukan dengan emosi, seperti waktu dulu.

***

Ku kecup kening Luna yang pulas di sebelahku, mumpung jalanan sedang macet. Dan selamat tinggal jokja untuk kenangan yang engkau suguhkan pada kami, kelak kami akan datang lagi membawa cinta yang telah kau berikan.

*Tamat*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s