Next Destination

Cerita sebelumnya, klik di sini

Kicau burung bersahut-sahut, cahaya matahari merambah melalui kisi-kisi jendela yang masih tertutup tirai berwarna merah marun. Tanganku menggeliat, melenturkan otot-otot yang kaku. Luna masih terpejam, tangannya berada di dada, mendekapku. Kukecup keningnya, ia mencoba membuka perlahan matanya.

“Selamat pagi, cantik. Nyenyak sekali tidurnya,” ujarku.

Ia hanya tersenyum dan mencium pipiku lalu tertidur lagi. Aku bangun dan akan beranjak, tapi tanganku ditarik kembali oleh Luna.

“Kamu mau kemana? Nanti aja, aku masih mau bobo-boboan sama kamu,” ucapnyanya, manja.
“Kamu sakit? Suaramu bindeng,” sambil kuletakkan tanganku di dahinya.
“Nggak kok, mungkin karena semalem habis nangis.”

Aku pun tertidur lagi, dan Luna meletakkan kepalanya di perutku, kubelai rambut panjangnya yang berwarna cokelat kemerahan. Ngobrol di ranjang adalah salah satu cara mendekatkan hati pasangan, begitu kata artikel majalah yang pernah kubaca.

*

Kutilik jam dinding yang menempel di atas televisi, sudah pukul 07.30.

“Lun, katanya mau ikut kelas batik di Prawirotaman. Udah yuk bangun, mandi.” kataku sembari beranjak menuju bathroom.
“Hah! Mandi bareng? Yuk!” serunya.
“Bukan, tapi kalau kamu mau, ya ayo…” ajakku yang sudah nerdiri di depan pintu bathroom.
“Huuu… Dasar kamu, semalem aja gak mau. Gak jadi, kamu duluan aja. Eh kamu aku mau pesen sarapan, kamu mau pesen apa?”
“hehehe,… ya udah aku duluan. Aku pesen nasi goreng aja.” jawabku sembari memasuki bathroom.

*

Dua jam kemudian setelah mandi dan sarapan. Kami beranjak dari Hotel dan sekalian check out, rencana hari ini akan pulang ke Semarang sehabis dari Prawirotaman. Luna terlihat anggun, memakai dress selutut bermotif batik. Entah kenapa wanita yang memakai batik aura keindonesiaannya nampak. Sepanjang jalan menuju lobby hotel pujianku meluncur deras untuknya.

Meskipun telah beberapa kali ke Jogja, aku belum pernah ke Prawirotaman, sama halnya dengan Luna. Dengan mengendarai Yaris merah, kami hanya berbekal denah yang dibeli di Malioboro dan bertanya pada orang-orang. Ternyata tak begitu jauh dari hotel. Prawirotaman  itu sejenis kampung yang bergang-gang. Setelah memarkir mobil, kami memasuki perkampungan itu, bukan hanya ada tempat belajar membuat batik saja di sana, tetapi ada banyak artshop, juga ada penginapan untuk wisatawan backpacker. Warganya rupa-rupanya menyewakan rumahnya untuk dijadikan penginapan. Lalu kami memasuki salah satu galery, setelah bertanya-tanya kami pun mengikuti kursus singkat membuat batik.

Menggambar di kain dengan menggunakan canting dan lilin panas itu tak mudah, beberapa kali lilin meluber atau menetesi kulit. Panas. Lebih mudah membuat design di komputer. Sesudah melewati beberapa proses, seperti pewarnaan, perendaman, dan penjemuran. Kami bisa membawa pulang hasil karya kami yang jauh dari kata sempurna.

Sudah jam dua belas lewat, pantas saja sudah terasa lapar, setelah membeli beberapa barang di galeri itu. Kami mencari tempat makan siang, dipilihlah Warung Gudeg Bu Sumitro. Demikian yang tertera di papan namanya. Konsep restaurant ala sunda, tak pakai meja kursi, tapi bale-bale lesehan. Baguslah aku bisa meluruskan kaki, sementara Luna sibuk memesan makanan. Tempatnya cukup nyaman, adem. Mungkin karena 70% bangunannya terbuat dari kayu dan bambu.

Makanan pesanan datang; ada Gudeg, semur telur, tempe mendoan, sambel. Sembari makan siang aku iseng membuka twitter. Kulihat linimasaku banyak twit bertagar #NP, aku melirik Luna. Sebelum aku bicara ia sudah duluan mengatakan,

“Iya maaf, aku yang update.”
Aku tersenyum, “gak apa-apa Ayang…” candaku.

Lalu, kulihat twit-twit membicarakan bom. Rupa pukul sepuluh pagi tadi solo di bom. Dan ada yang salah satu twit yang mengganggu mata, seseorang memposting tubuh pelaku dengan perut terburai, membuat tak bernapsu lagi makan siang.

“Kenapa sih?” tanya Luna.
“Itu ada bom di solo, kayaknya kita gak bisa pulang lewat solo deh.”
“Loh, kenapa memangnya?”

Sambil kucubit pipinya, “ih si Ayang lemot  deh, aku kan gak punya sim A. Pasti banyak razia.”
“Aww,.. Sakit tahu. Ya udah lewat magelang lagi, ya nanti kalo ada razia buru-buru ganti posisi, kamu di atas aku di bawah… Eeeh… Hehehe,” katanya dengan mencolek daguku sedangkan aku asyik membaca linimasa, “hehehe…”

*bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s