Aku Kembali

Sudah 3 tahun aku dan Bima menjalin hubungan, dan hari ini tepat 3 tahun kami berikrar mencoba menyatukan hati. Di tempat ini, Surabaya Old City Area, Bima pernah memintaku menjadi kekasihnya, dan aku hanya terdiam lalu menganggukkan kepala. Di perjalanannya banyak rintangan yang harus kami hadapi, yang terberat tentu restu orang tua. Papa Mamaku sampai saat ini belum bisa merestui hubungan kami. Kalau kami ingin bertemu, biasanya sembunyi-sembunyi, sebab “0rang-orangnya” Papa selalu mengikuti dan mengawasiku, aku tak mau Bima kenapa-kenapa, dan tempat ini yang biasa kami kunjungi setelahnya kami sering mengunjungi Kya-Kya Kembang Jepun, sekadar menikmati hiburan di sana.

“Dek, mungkin malam ini terakhir kalinya aku mengajakmu ke sini.” Ucapnya, membuka tanya di kepalaku.
“Lho Mas kok ngomongnya kayak gitu, memang mau kemana?”
“Kemarin temanku yang di Jakarta telepon aku, dek, dia mintaku bantu-bantu usahanya.”
“Terus kamu setuju?”
“Ya, aku menyetujuinya. Lumayan dek, gajinya besar.”
“Aku ikut, Mas. Kita kawin lari saja.”
“Jangan, dek. Aku tidak mau menyusahkanmu. Aku sebentar kok, paling 2 Tahun aku sudah kembali ke Surabaya. Untuk melamar kamu.”
“Tapi Mas…”
“Percayalah, dek. Di sana aku gak akan macam-macam kok.”
“Ya sudah, Mas, kalau memang itu yang terbaik untuk kita.”

***

Pagi, di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Bima tengah duduk di ruang tunggu Eksekutif menikmati secangkir kopi sambil menanti KA. Argo Anggrek memberangkatkannya menuju Jakarta.

“Mas Bima!” Teriakku, mengejutkan Bima.
“Lho dek, kamu ndak kuliah?”
“Aku bolos, Mas.” Jawabku sambil memeluk Bima. Erat.
“Kamu nih, gadis badung!” Ucap Bima dengan mengelus rambut panjangku.
“Mas, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai Jakarta, kabari aku, dan jangan nakal di sana.”
“Iya, sayang.” Sahut Bima, dan sebelum ia menaiki kereta, ia meninggalkan kecupan di keningku.

Kereta bergerak, dari dalam kulihat Bima melambaikan tangan, aku pun membalasnya dengan sesekali menyeka Air mata.

***

Sudah setahun kami melakoni hubungan jarak jauh, pagi ini, sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak pesan ponselku. Pesan yang mengabarkan, Bima minggu depan akan pulang ke Surabaya. Tak terasa setahun lebih tak berjumpa, rinduku sudah menumpuk. Bahagia sekali mendapat kabar itu, rasanya sudah tak sabar menunggu minggu.

***

Sehabis sarapan, sebelum ke gereja, dari ruang televisi kudengar percakapan seru antara Papa dan Mama.

“Ada apa sih, Ma?”
“Itu lho Ren, kecelakan kereta di Grobogan, korbannya banyak banget. Duh, kasihan mereka.”

Aku terperanjat melihat berita TV, dan hatiku pun seperti terhantam, bagaimana dengan Bima, kudengar ia akan pulang hari ini. Kutelepon ponselnya tak aktif, aku semakin risau. dan saat di gereja, tak henti-hentinya aku memanjatkan doa untuk keselamatan Bima.

Jam satu siang, tiba-tiba Bima meneleponku, kata-katanya singkat. Ia memintaku datang ke Surabaya Old City Area nanti malam.

***

Setengah jam aku menunggu, ponselnya pun tak aktif. Betapa senangnya hatiku, pikirku ternyata Bima tak ikut dalam kereta naas itu. Di tengah lamunku, Bima datang mengagetiku, Ia berpakaian sama seperti setahun yang lalu, ketika ia pamit padaku ingin bekerja di Jakarta, di tempat ini juga. Tapi ada yang aneh dengannya, wajahnya datar, pucat, seperti orang habis sakit.

“Mas, kamu sehat kan?”
“Sehat dek, bagaimana kabarmu.”
“Puji Tuhan, sehat Mas. Oiya aku tadi sempat khawatir kamu menumpang kereta tadi pagi yang kecelakan itu. Untungnya tidak.”
Bima tak menjawab, ia hanya tersenyum, dengan senyum yang datar. Dan aku sempat menumpahkan kekesalanku pada Bima, sebab entah kenapa orang-orang yang melintas di hadapan kami tersenyum-senyum tidak jelas, seperti mengejekku. Tapi Bima hanya berkata, “Biarkan saja.”

Malam sudah larut, Bima menyuruhku untuk segera pulang. Tidak seperti biasanya Bima seperti itu, biasanya ia akan mengantarku sekalipun itu sembunyi-sembunyi.

***

Pagi ini aku bangun dengan sangat bahagia.

“Pagi Mam, pagi Pap…” Ku kecup kedua orang tuaku yang tengah menikmati roti.
“Kamu senang banget, hari ini kuliah?” Tanya Papa.
“Nggak, memang kenapa Pap?”
“Kalau begitu nanti ikut ya, ke rumah Pak Bagus.” Ucap Papa.
“Pak Bagus ayahnya Mas Bima, Pap?” Aku setengah terheran, Pak Bagus itukan Ayahnya Bima kok tumben-tumbenan Papa mengajakku ke rumahnya Bima, bukankah selama ini aku dilarang Papa bertemu Bima.
“Iya, ayahnya Bima.”
“Ngapain ke sana Pap?” Tanyaku.
“Lho kamu belum tahu, Papa kira kamu masih berhubungan dengan Bima. Kemarin Bima jadi salahsatu korban kecelakan kereta itu, Ren. Papa dan Mama mau mengucapkan belasungkawa ke Pak Bagus dan kamu sebagai orang yang pernah dekat dengan Bima, ikut ya?”
“I,.. Iya Pap.”

Jadi, yang semalam yang menemuiku itu adalah ruhnya Bima. Ia menunaikan janjinya padaku, bahwa ia akan kembali. Aku langsung beranjak ke kamar, dan menangis sejadi-jadinya.

2 thoughts on “Aku Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s