Gemerisik Malam

Cerita sebelumnya, klik di sini

ANGIN malam bergemerisik, menjatuhkan helai-helai daun angsana kering tepat di atas kami yang meniti asmara, seakan mengisyaratkan rasa iri. Jalanan mulai lengang, lampu-lampu kota temaram memayungi sepasang bayang yang timbul tenggelam. Aku melirik jam tanganku, sudah pukul 23.16 dan 15 menit kemudian kami sampai di pelataran hotel. Lampu-lampu terang memperlihatkan wajah Luna yang letih. Aku menawarkan diri untuk menggendongnya, tetapi ia tak mau menyusahkanku yang juga telah keletihan. Dengan langkah gontai kami berjalan menuju kamar.

Setelah meletakan barang belanjaan Luna di meja samping televisi, aku menjatuhkan diri ke tempat tidur. Hari yang panjang. Kuambil remote televisi, menggonta-ganti chanel tak ada acara yang menarik, sampai pada sesosok mahluk yang baru keluar dari bathroom, mengenakan celana piyama berwarna pink dan tank-top berwarna hijau mengalihkan pandanganku dari acara televisi yang tidak jelas. Keremangan kamar hotel membuat darahku mendesir-desir, jantungku berdetak lebih kencang.

“Semoga tak mimisan”, gumamku.

Luna mendatangiku yang tengah merebahkan tubuh, lalu merebut remote dari tanganku dan mematikan televisinya. Aku hanya diam terpaku, memandangi raut wajahnya dan menghirup wewangian di tubuhnya. Dengan suara agak berat dan sedikit mendesah, ia berucap terima kasih padaku sebab sudah mau menemaninya liburan.

“Kamu mau apa malam ini? Aku akan lakukan,” ucapnya, mengejutkan aku.
“Aku tak menginginkan apapun selain kamu dapat tidur dengan tersenyum,” sahutku.
Kembali ia bertanya padaku, “yakin gak mau apa-apa?”

tumblr_m9bdqhfwvq1rznuy3o1_500_large.jpgDan belum sempat aku menjawabnya, Luna sudah mendaratkan ciumannya di bibirku. Kami bertukar napas, tangan Luna memegangi kepalaku dan mencengkeram rambutku, sementara tanganku melingkar di pinggulnya. Napas memburu saling berkejaran dengan dentuman di dada. Menghangat. Padahal tadi kami merasakan letih yang teramat sangat.  Entah mengapa keremangan kamar, aroma terapi, dan suara-suara jangkrik membangkitkan energi untuk “itu”.

Sebelum birahi meninggi dan beranjak jauh dari nalar, aku mencegahnya membuka apa yang melekat di tubuhnya. Aku tak ingin dianggap memanfaatkan dirinya yang sedang gamang. Kalau pun hal itu harus terjadi, aku ingin itu sebagai perayaan cinta, bukan sebagai pengalih kesedihan atau pelampiasan kemarahan. Aku tahu ada gurat kecewa dari air mukanya, dia berbalik memunggungiku dan duduk di pinggir tempat tidur. Aku memeluknya dari belakang, kudapati air matanya menetes di tanganku. Ah, aku melukainya justru saat aku mau melindunginya. Ironis.

Lantas kubisikan di telinganya, “aku ingin cinta yang tak dilebih-lebihkan, cinta yang kadarnya cukup. jika kamu kecewa aku tak mau melakukan itu, maafkan aku. aku tak mau menyeretmu jauh ke dalam lubang kenistaan, sekalipun didasarkan atas cinta hal tersebut tak baik dilakukan sekarang di saat kamu sedang gamang.”

Luna membalikkan tubuhnya, melepas dekapanku kemudian berkata, “Kalau saja sekamar bukan sama kamu, aku tak tahu apa yang akan terjadi. Aku menangis bukan karna kecewa sama kamu, Mas. Tapi karena haru, masih ada cowok baik kayak kamu,”

Aku memeluknya sampai kantuk bergelayut lagi.

***

Luna tidur seranjang denganku, ia merebahkan kepalanya di atas dadaku. Detak di jantungku, mungkin seperti irama yang meninabobokannya. Terlihat ia sudah menyelami mimpinya begitu lelap. Aku pun beranjak terpejam, karena esok pagi-pagi sekali Luna mengajakku membuat batik di Prawirotaman.

*bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s