Menilam Kenangan di Malioboro

Cerita sebelumnya, klik di sini

WANGI pengharum ruangan beraroma lemon menyeruak seketika, sesaat pintu kamar 104 Hotel Puspita di jalan MayJen Sutoyo kami buka. Perjalanan satu setengah jam yang seharusnya, molor menjadi dua jam lebih dari Pantai Glagah ke pusat kota Jogja. Ditambah mencari penginapan yang tak jauh dari Malioboro, Keraton, Taman Sari, dan Prawirotaman, didapatlah hotel ini. Sudah sering kali aku mengunjungi Jogja, namun baru kali ini ngeh kalau bangunan berarsitektur joglo  di salah satu sudut jalan MayJen Sutoyo adalah sebuah hotel.

Perjalanan yang menyita energi, khususnya untukku yang nonstop menyetir dari Semarang lalu ke Kulon Progo, Pantai Glagah. Langsung saja kurebahkan tubuhku di atas spring bed, sejenak memandang langit-langit kamar hotel dan terpejam setelahnya. Luna? Sesaat sebelum aku terpejam, ia sedang membereskan barang-barang yang ada di dalam tasnya, di tempat tidur yang ada di  sebelahku.

Pukul 20.13 WIB, aku dibangunkannya. Ia mengajakku makan malam. Mataku masih agak terasa berat saat mendapati perempuan di hadapku tersenyum manis dan wangi parfum menyemut di tubuhnya. Setelah merapikan diri, aku dan Luna beranjak ke Malioboro yang berjarak hanya 10 menit dari hotel tempat kami menginap. Kami berjalan di selasar pertokoan dan kaki lima, memasuki tiap kios-kios yang menjual macam-macam aksesoris. Berhubung perut belum begitu lapar, tak apalah mengikuti insting wanita, shoping. Beberapa menit kemudian, beberapa barang belanjaan sudah di tangan kananku. Menurutnya tanggungjawab lelaki tuh saat membawakan barang belanjaan perempuan tanpa harus diminta, kata-kata yang masih mengendap di gendang telingaku, sebab sempat dulu aku pernah menolak membawa barang belanjaannya, dan dia marah besar lalu ngambek berhari-hari.

Jam di tanganku menunjuk ke angka 21.11, hah! semoga ini jadi kios terakhir yang kami sambangi.

Mencari tempat makan di Jogja itu sebenarnya tak sulit, apa lagi di Kawasan Malioboro, dari Restoran sampai Lesehan ada. Hanya saja, karena ia alergi dan sensitif terhadap beberapa makanan jadi harus hati-hati. Kami menyusuri jalan sepanjang satu kilometer itu, ada yang lebih berat dari belanjaannya yang ada di tangan kananku, adalah genggamannya yang semakin erat menggenggam kenangan. Sampai kami berjalan sejauh 15 meter, akhirnya kami menemukan Restoran dengan konsep unik, taman di tengah keriuhan Malioboro. Legian Garden Restaurant, memasukinya kami mendapati nuansa yang berbeda, seperti di Bali. Ah, tak apalah tak jadi ke Bali pikirku, ternyata di Jogja pun ada “Bali-nya”. Alunan musik Bali dan gamelan jawa bersahutan, merdu. Restoran ini ada di lantai dua persis di depan Hotel Ibis. Kami memilih meja di sisi dekat jalan Malioboro. Hiruk pikuk Malioboro tak pernah mati, terlihat dari atas begitu cantik. Ayam betutu, gudeg kendil, dan sate bali menu kami malam ini. Sembari menunggu mananan datang, banyak hal yang kami kisahkan, saling berbagi, seperti empat tahun lalu begitu singkat. Saling menggenggam, bersitatap, dan kembali aku menggerutu Tuhan.

“Tuhan tak adil, Ia memberi rasa sayang di hati kami, tapi karena keyakinan dan berbeda menyebutkan namaNya-lah cinta yang dihibahkanNya tak bisa bersatu. Hah!”

Matanya berkaca, setelah menceritakan kisahnya dengan mantan suaminya, sembari memperlihatkan lengannya yang luka akibat pukulan mantan suaminya. Demi Tuhan, kukira Iblis pun takkan pernah tega melukai perempuan lembut di hadapanku ini, lalu pria macam apa yang begitu tega memberinya luka. Bahunya bergetar menahan pilu. Aku bergeser, duduk di sampingnya, mendekapnya. Lelaki mana yang tega melihat orang yang disayanginya begitu terpukul, karena itu ketika ia mengajak liburan ke Jogja tak kutampik.

Menu makan malam datang, kuusap bulir-bulir air matanya dengan saputanganku,  kukecup keningnya menenangkannya. Menunya biasa, tapi karena di Jogja dan dengan seseorang yang pernah menjadi yang spesial di hati, yang menjadikannya luar biasa.

*

Sepanjang perjalanan pulang ia melingkarkan tangannya ke lenganku, merebahkan kepalanya di bahuku. Terulang, tapi kali ini bukan sebagai kekasih, sebagai sahabat. Sahabat? Setelah ciuman di Pantai Glagah itu? Entahlah, apakah ada larangan seorang sahabat dilarang mengecup bibir sahabatnya? Cinta adalah hal yang membuat semua perihal terlihat aneh.

*bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s