Biru, Jatuh Hati


Pagi ini, wanita yang aku cintai tengah dilamar orang. Sedang aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain meringkuk dalam kamar, menyetel radio, dan menulis novel keduaku yang hampir rampung. Aku teringat malam sebelum hari ini.

Di suatu cafe di kawasan kemang, Laras, wanita yang kukenal sejak kuliah itu berkata, “Besok aku akan dilamar? Kamu datang ya.”
“Dilamar?” Gumamku, dengan menatap manik-manik matanya.
“Iya, Heru, dia yang akan melamarku.”
“Tapi Ras, kau…” Belum sempat kulanjutkan ucapanku, Laras sudah menyelaku.
“Aku tau maksudmu. Aku gak bisa nunggu kamu, Bir. Aku wanita, aku diburu waktu. Kesabaran yang bagaimana lagi yang belum aku lakukan? Sedangkan kau, kau masih diam, kau terlalu asyik dengan duniamu itu. Dan Heru, ia tau bagaimana menempatkan aku sebagai wanita.”

Begitulah perbicangan kami malam tadi, memang semua ini kesalahanku yang melewatkannya. Aku terlalu asyik dengan dunia ku sendiri.

Tok… Tok… Tok…

“Den Biru…! Ini lho ada Mutia dateng.” Suara Pembantuku dari balik pintu kamarku yang terkunci.
“Iya Bi, sebentar…”

“Elo, Ti. Kok gak ke acaranya Laras?” Ucapku. Mutia adalah sahabatku sejak SMA sampai kuliah, ia pun temannya Laras.
“Tadi gue udah kesana kok, Bir. Tapi pas gue lihat elo gak dateng, ya gue putusin aja kesini.” Jelas Mutia.
“Lho kok, kenapa?”
“Gue ngerasa yang lagi butuh gue sekarang ini bukan Laras, tapi elo, Bir. Ditempatnya Laras udah banyak yang bantuin kok.”
“Tapi kan gak enak, Ti.”
“Nggak lah, gue udah pamit kok sama Laras. Eh elo ngapain di kamar aja, Bir. Keluar yuk, ngapain gitu.”
“Lagi gak mood kemana-mana, Ti.”
“Yah, jadi cowok jangan cengeng apa, udah yuk ikut gue.” Ajak Mutia sambil menarik lenganku.
“Kemana? Gue belum mandi!”
“Yuk ikut aja, udah gak apa-apa, tetep kece kok.” Mutia menarik dan memaksaku untuk naik ke mobilnya.

***

Di tengah perjalanan, aku masih bertanya-tanya mau dibawa kemana oleh Mutia.

“Ti, kita mau kemana sih, kayaknya jauh banget. Udah ditinggal lamaran, diculik sahabat sendiri, gak bawa baju ganti, belum mandi pula. Hari apa sih nih? apes banget gue.”
“Santai bro’, santai… Gue bakal bawa lo ketempat lo bisa ngelepasin semua beban lo. Semua hal yang gak pernah bisa lo katakan. Ya, semoga sedikit membantu.”
“Ah, elo Ti, emang sobat gue paling yahud lah.”
“Gue…” sungutnya sambil tersenyum.

Setelah beberapa jam, akhirnya dapat kucium aroma pantai. Pohon kelapa yang melambai, pasir putih. Ah, Mutia membawaku ke Pantai Pangandaran.

“Pangandaran, Ti?”
“Yo’i, Suka?”
“Sukalah…” Kataku sambil mengacak-acak rambut Mutia
“Eh, tapi gue laper, Bir. Nyari makan dulu yuk.”
“Boleh.”

***

Sesaat setelah habis makan.

“Bir, gue punya tempat favorit di sini. Dan tiap gue punya masalah yang bikin otak gue butek, selalu gue kunjungin.”
“Di mana, Ti?”
“Yuk!” Lagi, Mutia menarik lenganku menuju ke sudut favoritnya.
“Nih di sini, asyik kan? Aaaaaa…..!!!!” Mutia mengajakku berdiri di tepian pantai, dan berteriak.
“Coba lo teriak, Bir, lo lepasin emosi lo di sini.” Pinta Mutia sambil sedikit berteriak karena deburan angin yang begitu kencang.
“Aaaaaaaaaaaaaaa………!!!!” Teriakku mengikuti Mutia.
“Dasaaaaaaarrr cowoooookkk bodooooooohhhhh, gueeeee sebeneeeeerrrrnyaa juggaaaa sukaaaa eloooooo!!!!” Teriak Mutia.
“Ti, lo ngomong apaan tadi?”
“Eh, nggak, keceplosan aja gue.” Kata Mutia dengan raut wajah yang agak rikuh.
“Apaan, ngaku deh, siapa cowok yang lo maksud? Sebagai sahabat lo, gue harus tau cowok yang bisa ngambil hati lo. Secara lo, cewek yang cuek banget sama urusan cinta-cintaan.”
“Eh kok sekarang malah gue sih yang jadi obyeknya? Harusnya kan lo, Bir.”
“Udah deh ngaku aja, siapa? Kalo lo seneng gue pasti ikutan seneng, Ti.”
“Ngehe lo, Bir, bikin gue tersudut kayak gini. Lo teriak lagi gih, kok jadi gue sih.”
“Nggak mau sebelum lo ngaku.”

Setelah beberapa menit terdiam, kami terduduk di atas pasir putih, memandang sore yang akan tiba.

“Sebenernya Gue males ngomongin cinta, Bir. Lo tau sendiri keluarga gue, gara-gara cinta kakak gue masuk RSJ, gara-gara cinta bokap gue selingkuh, gara-gara cinta nyokap gue bunuh diri, dan sekarang gara-gara cinta sobat gue hampir jadi orang yang gak lagi gue kenali.”
“Ssst.. Bukan Ti, bukan cinta yang menyebabkan semua itu terjadi. Cinta gak pernah salah, kitanya yang salah memperlakukan cinta.”
“Bisa lo ngomong begini, beberapa jam lalu, gue masih ngeliat loe jadi zombie di kamar lo. Lo tau ketika gue ngeliat lo seperti itu. Gue sakit, Bir. Sakit!”
“Maafin gue, Ti.” Mutia gue peluk.
“Bir, gue sebenernya suka sama lo, dari dulu. Dari lo masih sering dipalakin sama kakak kelas di SMA. Lo dikatain nerd, culun, atau apalah. Lo tau kenapa gue suka sama lo?
“Nggak…”
“Cuma lo, Bir, yang masih bisa memberi pengertian di otak gue, masih ada orang tulus di muka bumi ini. Gue suka sama lo, Bir, gue cinta elo.”
“Tapi Ti, gak adil banget, kalo sekarang kita jadian. Gue juga pengen memperjuangkan lo. Kita pelan-pelan aja ya.”
“Terserah lo, bir, Asal sama-sama lo, gue udah seneng kok. Jangan sedih lagi, kan udah ada gue.”
“Iya, jeleeeek…”

“Pangandaran, I’m in Love!!!” Serentak kita teriak. Kompak.

9 thoughts on “Biru, Jatuh Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s