Sehangat Serabi Solo


“Nang…?!”
“Dalem bu’e.”
“Mrene tho, bu’e kandhani.”
“Onten menopo tho, bu?”
“Iki lho, ono layang seko mbak Dara…”

Percakapan singkatku dengan Ibu sesaat aku sampai di rumah setelah seharian bekerja di Pasar Klewer. Aku bekerja sebagai kuli angkut di Toko batiknya Pakdhe Kliwon. Sudah hampir setahun aku berkerja dengan Pakdhe Kliwon, lumayan hasilnya bisa buat tambahan kuliah. Sebelumnya aku juga bekerja di Pasar Klewer di Toko Om Hendro, dan sebenarnya Om Hendro baik. Tapi setelah ia mengetahui aku memiliki hubungan khusus dengan Dara, anaknya, aku dipecat. Entahlah, mungkin Om Hendro malu, pacar anaknya adalah seorang kuli angkut. Sedangkan Dara adalah calon dokter.

“Kowe tho nang, bu’e undang seko mau, ra metu metu.” Kata ibu, karena aku tidak keluar kamar, ibu yang mendatangiku.
“Onten menopo tho bu, aku kesel’e.” Ucapku, sambil memijit bahuku sendiri.
“Iki ono layang seko mbak Dara. Diwoco!” Kata ibu, sambil memberi sepucuk surat. Lalu ibu beranjak keluar kamarku lagi, melanjutkan pekerjaannya membuat adonan serabi. Benar ibuku penjual serabi di pelataran Pasar klewer saat pagi, semenjak bapak meninggal 3 tahun lalu.

Kubuka surat yang ibu berikan, yang katanya dari Dara. Sekarang Dara sedang ada di Jakarta, Ia sedang menjalani masa Koas di sebuah Rumah Sakit. Hubunganku dengan Dara masih baik, masih seperti dulu, saling menyayangi. Dara tidak sedikit pun melihatku rendah, ia tidak melihat status sosialku. Namun terkadang justru aku sendiri yang risih, ketika sedang jalan bareng dengannya. Aku merasa tak pantas berdampingan dengan Dara, tapi Dara selalu meyakinkan aku, bahwa dalam cinta status sosial tak berlaku, yang ada adalah kemurnian cinta itu sendiri. Cinta dengan saling memahami, saling menguatkan, saling menghormati.

Hubunganku dengan Dara berjalan backstreet, seperti yang tadi kubilang Ayah Dara tak bisa atau lebih tepatnya belum bisa menerima keberadaanku. Aku memahami itu, orang tua selalu menginginkan hal terbaik untuk anak gadisnya. Aku tak menyalahkan Om Hendro, justru di sini aku menantang diriku sendiri untuk berjuang memantaskan diri menjadi pendamping Dara, kelak di kemudian hari.

Kepada Kekasihku tercinta, Mas Arief…

Bagaimana kabarmu di sana, Mas? Semoga selalu sehat dan selalu di beri keberkahan oleh Tuhan. Kau tak perlu khawatir, aku pun di sini baik-baik saja. Oia bagaimana dengan Ibumu, Mas, kudengar dari mamahku kemarin Ibumu sakit. Tolong jaga Ibu baik-baik ya, Mas.

Mas, sudah hampir 2 bulan di sini, dan kau tahu, tiap hari kangenku numpuk. Mbok kamu beli Handphone tho, Mas. Gak perlu yang mahal-mahal, Kalau memang gak ada dananya, biar tak pinjami dulu. Kau memang gak kangen sama aku, Mas? Mengingatmu sepanjang malam sudah jadi jadwal tetapku, dan jaketmu selalu jadi obat kangenku yang ampuh.

Mas, bagaimana dengan kuliahmu? Mamah juga cerita kemarin denganku, katanya kau sudah menyelesaikan sidang. Kenapa kau tak memberi tahu kabar baik ini padaku? Ah mungkin kau mau memberiku surprize kan. kalau nanti kau wisuda, tolong beritahu aku, aku akan datang diam-diam ke Solo. Beritahu aku ya, Mas, jangan lupa!

Mas, aku menulis surat ini saat waktu sudah lewat tengah malam, dan wajahmu mas, wajahmu begitu kental di hadapku. Di dalam kepalaku, aku masih mengingat senyummu, senyum yang kau berikan saat melepasku pergi di Stasiun Solo Balapan. Kau tahu, Mas, masih hangat sehangat serabi solo buatan Ibumu.

Ya sudah Mas, jaga dirimu baik-baik di sana. aku pun demikian dengan diriku. Tak usah pedulikan orang lain berkata apa tentang kita. Yang kau harus pedulikan adalah aku dan cintaku yang begitu besar untukmu.

Tertanda, kekasihmu.

Dara Pradyuma Suhendro.

Lalu kulipat kembali surat dari Dara tersebut, dan memasukannya dalam laci di lemari tua milikku. Aku menyimpannya dengan menyelipkan sebuah doa dan selengkung senyum di dalamnya.

***

Hari ini, hari wisudaku setelah 4 tahun bergelut dengan buku. Sebentar lagi aku akan bergelar Sarjana Hukum. Yang membuatku bangga, aku mendapatkan gelar itu atas jerih payahku dan Ibu. Dengan mendapatkan Beasiswa ibu tak perlu membiayaku.

Hari ini adalah hari awal aku memantaskan diri untuk mendampingi Dara, tapi sudah sejam Dara belum hadir, apa dia tidak jadi datang? Tapi tak beberapa lama SMS masuk ke handphone yang baru saja aku beli, tertulis. “Temui aku, di tempat di mana dulu ayahku pernah menamparmu. Aku ingin tunjukan, pilihan anak gadisnya tak salah.” Mataku berkaca membaca pesan singkat tersebut. Setelah prosesi kelar, aku pamit pada ibu dan langsung menuju Pasar Klewer. Di sana Dara telah menunggu, sudah 9 bulan tak bertemu. Aku memeluknya, tak peduli lagi bila Om Hendro menghardikku atau bahkan menamparku lagi. Dara adalah hidupku.

*ditulis sambil mendengarkan lagu Dara ciptaan Nazriel Irham*

Dara jangan kau bersedih
ku tahu kau lelah
tepiskan keluh dunia
biarkan mereka, biarkan mereka

Tenangkan hatimu di sana
tertidur kau lelap
mimpi yang menenangkan
biarkan semua, biarkan semua

Kurangi beban itu
tetap lihatlah kedepan
tak terasingkan dunia
dua jiwa yang perih

Masih ada di sana
tempat kita berdua
dalam hati yang menyatu
tempat kita berdua

2 thoughts on “Sehangat Serabi Solo

  1. aku tak pernah jemu membaca kisah cintamu, mas. baik berupa puisi, prosa, maupun ff. Selalu menakjubkan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s