Menunggu Lampu Hijau


Siang itu, di rumah makan RM Simpang Raya, sehabis rapat dengan relasi bisnis, dering telepon seluler menghentikan makan siangku.

“Assalamualaikum uda Faisal, benar uda sekarang sedang di Bukittinggi?” Sapa seorang wanita di ujung telepon sana. Suaranya lembut.
“Wa’alaikumsalam. Benar, Kamu siapa ya?” Tanyaku. Penasaran.
“Aku Louis, uda. Uda sudah lupa dengan suaraku?”
“Hah, Louis? Sudah lama sekali tak berjumpa, sekarang kamu di mana?”
“Kebetulan sekali uda, Louis pun sedang ada di bukittinggi. Kemarin dek Icha, menikah. Uda, boleh kita bertemu? Louis kangen.”
“Tentu, uda pun ingin bertemu. Kapan kita bisa bertemu?”
“Sore ini ya uda, Besok Louis sudah harus kembali ke KL.”
“Baiklah, kita bertemu di tempat biasa.”
Setelah janjian dan mengucapkan salam, aku menutup teleponnya.

Louisya Natalia, perempuan cantik keturunan tionghoa yang pernah menghuni relung hatiku saat SMA dulu. Namun, kita tak sempat menjalin ikatan cinta. Aku tak percaya diri saat itu. Siapalah aku, hanya seorang anak pedagang buah. Sedang Louis, anak pengusaha. Kami hanya menjalin persahabatan, walau sebetulnya aku tahu Louis pun menyimpan rasa padaku.

Malam setelah kelulusan, di bawah rerintik gerimis, sebelum memutuskan merantau ke Jakarta aku menemuinya di sebuah kedai kopi dekat Jam Gadang. Louis sangat anggun, memakai dress selutut motif bunga-bunga, seperti biasa ia senantiasa memasang senyumnya. Dan gigi gingsulnya menambah manis senyumannya. Sebenarnya aku tak tega memberitahunya bahwa aku akan pergi meninggalkannya. Ia pasti akan bersedih, tapi mau bagaimana lagi, adat kami memang demikian. Anak lelaki yang sudah dewasa, diharuskan merantau ke kota lain, menimba pengalaman hidup sebanyak-banyaknya sebelum pada akhirnya kembali lagi ke kota asal.

“Mas Faisal, sudah jam 13.17. Sepertinya kita harus kembali ke kantornya Pak Budi.” Kata Ikhsan teman sejawatku, membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya… Mari…”

***

Setelah rapat lanjutan, petang datang, dan fitur reminder di Ponselku berbunyi. Tertulis, sehabis rapat, segera menuju masa lalumu. Aku tilik jam tanganku, sudah pukul 16.33 rupanya. Kami tadi janjian bertemu sebelum jam menunjuk ke angka 5, aku masih punya waktu 27 menit lagi.

“San, Lo ke Hotel duluan ya, Gue ada keperluan lain. Mobilnya gue pake dulu.” Kataku pada Ikhsan, sambil meminta kunci mobilnya.

“Semoga tak terlambat, karena selepas jam 5 Louis sudah ke Padang. Dan esok hari ia kembali pulang ke KL. Duh!” gumamku.

Mobil ku gas sekencang-kencangnya, hingga cuma kemacetan di perempatan Aur Kuning, yang bisa menghentikan aku.

Entah kenapa lampu merah di perempatan ini cepat sekali menyala-nya, atau hanya perasaanku saja yang tak sabar bertemu Louis. Waktu sudah menunjukan pukul 16.55, saat lampu hijau di depanku menyala. Segera kutancap gas. Tak beberapa lama, aku sampai di kedai kopi tempat dulu kami sering menghabiskan malam. Kucari sosok cantik yang mengedap di kepalaku, aku tak mendapati apapun.

“Uni maaf, apakah tadi ada gadis tionghoa yang datang ke tempat ini?” Tanyaku pada seorang pelayan di kedai itu.
“Oh nak Faisal yo, ah pasti nyari nak Louis kan? Ya, tadi nak Louis memang ke sini, tapinyo sudah pergi lagi. Indak bersua di jalan? baru saja perginyo.” Kata Uni pelayan itu dengan logat padang, rupanya itu Uni Zubaidah dan ia masih mengingatku.
“Uni Zubaidah?! Iya uni, Ambo mencari Louis. Kira-kira ia kemana ya Uni?” Tanyaku.
“Coba kau cari ke Jam Gadang sana, tadi ia bilang ingin ke sana.”
“Oh, baik uni. Terima kasih.”

Setelah pamit dengan uni Zubaidah, Aku segera menuju ke Jam Gadang.

Senja memerah ketika aku melintasi pelataran Jam Gadang. Mataku mencari sosok gadis tionghoa itu, sedang ingatanku mencoba memutar kembali wajahnya. 15 menit kemudian, kutatap Jam Gadang dan berteriak.

“Hai…!! waktu, kenapa kau tak pernah berbaik hati padaku sedikit saja. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Sesuatu yang kupendam selama 10 Tahun. Sungguh! Aku mencintainya! Dan Kau waktu, kau selalu memberiku lampu merah untuk mengatakan itu. Kenapa?!!” Teriakku.

Dan aku tak peduli lagi orang-orang di sekelilingku menatap dengan wajah aneh. Aku tak peduli aku dibilang gila, karena aku memang sudah tergila-gila padanya sejak dulu. Dan kini, aku telah sukses Louis. Aku telah memantaskan diriku untuk mendampingmu. Aku ingin mengatakan itu. Tapi, mungkin ia sudah pergi.

Aku tertunduk, lesu. Tak beberapa saat, dari belakangku terdengar seorang wanita dengan suara lembut berkata.

“Aku sudah melihatmu, dari dulu, uda. Aku melihatmu bukan dari apa yang kau miliki, uda. Aku melihatmu dari hatimu. Sesukses apapun uda sekarang, Louis tak melihat itu.” Ucapnya.

“Louis? Kaukah Louis?”

Aku berbalik tubuh, dan mendapati perempuan cantik dengan kulit putih bergigi gingsul ada di hadapanku. Masih, ia masih memasang senyum manis di bibirnya. Lalu aku segera memeluknya, ia pun memeluk tubuhku. Erat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s