Pagi

Pagi baru saja dibuka, sepasang kutilang bernyanyi dari pohon mangga tetangga. Memenuhi udara. Rintik-rintik hujan datang, menyapa pejalan kali yang melintas di depan rumahku. Seorang perempuan berpayung hitam membelah pagi.

Sudah 6 hari aku melihatnya berdiri di sana, di trotoar depan rumah. Dan sudah berpuluh-puluh bus datang menghampiri, berhenti, dan terabai. Olehnya. Dari kesamaran pandang, usianya telah setengah abad. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, hitam dan putih bercampur.

Hujan kali ini menderas, angin mengeras. Sesekali perempuan berpayung hitam terhuyung. Namun tak lantas membuatnya beranjak. Keinginannya untuk tetap berdiri terlampau kokoh untuk dijatuhkan hanya dengan angin musiman.

Perempuan berpayung hitam, esok hari ketujuh. Tidakkah kau rindu mengunjungi makam anakmu? Anakmu yang mati ditembak tentara.

Pagi baru saja dibuka, sepasang kutilang menemaniku berdiri di samping ibuku. Perempuan berpayung hitam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s