Gadis Kecil

Senja kali ini, seperti permintaan gadis kecil tadi pagi, sepulang kerja aku menyempatkan duduk di pelataran parkir. Gadis kecil itu minta dibawakan awan merah jambu. Memang agak terlihat bodoh, tapi kulakukan demi seorang yang paling aku lindungi di muka bumi. Aku menghitung gumpalan awan berwarna putih itu, lantas memetiknya satu per satu. Sebelum kumasukkan dalam kotak berpita warna oranye, tak lupa kuberi warna merah jambu, seperti yang ia minta. Jangan kau tanya seperti apa awan itu, sebab itu hanya ada di imajinasiku. Beberapa teman melihat ke arah ku dengan wajah aneh.

Setelah kurasa sudah cukup, lalu membungkusnya dengan kotak berpita oranye yang tadi sudah kusiapkan. Aku membayangkan wajah gadis kecil, ia pasti akan senang.

Aku datang lebih dulu ke taman itu, taman yang ia janjikan. Entah apa nama taman itu, aku lupa. Sebab ia suka sekali mengganti-ganti nama taman seenak dirinya sendiri. Kemarin ia bilang taman kunang-kunang, sebab ada kunang-kunang yang tersesat ke taman di tengah kota itu. Lantas di hari lain ia menyebutnya taman kupu-kupu, karena banyak kupu-kupu hitam putih yang hinggap di sana . Dan lagi ia menggantinya dengan nama taman berisik, karena suara jangkrik dan katak bersahutan saat aku menemuinya pada malam hari.

Sudah 30 menit aku menunggunya datang. Sore itu hujan, mungkin ia terjebak macet. pikirku. Aku menunggunya sambil duduk di atas ayunan yang sempit dan berkarat. Ah, tubuhku sudah tak seperti anak usia 10 tahun. Terlalu gendut untuk memainkan permainan itu. Kecuali gadis kecil, ia langsing.

Saat memandang matahari yang memerahkan sinarnya, tiba-tiba gadis kecil datang menyergapku dari belakang. Ia menutup mataku. Namun tetap saja wangi parfumnya kuhapal. Seperti biasa, rambutnya yang keungu-unguan ia kuncir dan selalu berayun kanan kiri mengikuti goyangan kepalanya. Dengan lolipop warna-warni di tangannya yang belum dibuka bungkusnya ia mendorong tubuhku hingga terjatuh, dan menertawaiku puas sekali sepertinya. Ia pun mengambil alih ayunan yang kutempati tadi, aku yang masih terjatuh di rumput hanya tersenyum melihat tingkah-polah jahilnya.

“Sudah berapa lama kau di sini?” Tanyanya sambil membuka lolipop dan memakannya. Gigi gingsulnya terlihat. Ah semakin menambah manis wajahnya.

Belum sempat kujawab ia sudah bertanya lagi, ” Apa itu?”

“Apa?”

“Itu Kotak berpita oranye yang ada di dekat tasmu. Untuk aku kan? Sini-sini.”

“Oh itu, sesuatu yang hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh orang yang sangat menginginkannya.”

“Apa coba lihat, sini…!” Serunya sambil mengambil kotak itu dari tanganku.

Sebelum dibuka ia sempat mengocok-kocoknya terlebih dahulu, “heh, gadis nakal, jangan dikocok-kocok!” Kataku yang tak dipedulikannya karena ia begitu asyik dengan rasa penasarannya.

Ia membukanya, dan sesaat kemudian wajahnya memurung, “Tak ada apa-apanya. Kau menjahiliku.”

“Coba kau lihat lagi, masa aku menjahilimu. Sesuatu yang kau ingini saat ini.” Kataku meyakinkannya.

“Kau, kau bawakan aku beberapa gumpalan awan merah jambu? Kau pasti mencurinya. Pantas Paman Langit tadi bersedih, ia kehilangan awan-awannya.”

“Paman Langit? Bersedih? Maksudmu?”

“Ia tadi waktu hujan, Paman Langit bilang ia kehilangan awan-awannya. Terpaksa aku menemaninya curhat dulu. Makanya aku telat datang menemuimu.”

“Oh gitu, Ya sudah kau lepaskan saja awan-awan itu.”

“Iya, tapi kau harus minta maaf dulu sama Paman Langit.”

“Lho kok aku? Kan kamu yang minta dibawakan awan-awan itu.”

“Iya, tapi aku tidak minta kau mencurinya kan? Sudah cepat minta maaf!”

“Iya, iya… Paman Langit aku minta maaf. Tadi awan-awanmu kucuri.” Kataku, mengikuti khayalannya.

“Ah kau minta maafnya gak tulus.” Sungutnya. Ia lalu berdiri dan meletakkan kotak berpita oranye itu di sampingku yang masih rebahan di rumput. “Aku mau menari. Menari untukmu.” Katanya. Yakin.

“Hah! Menari? Kau kan tomboy.” Ejekku.

Tangan mungilnya mulai ia rentangkan, tak mempedulikan senyuman mengejekku. Gemericik angin bertiup dan dedaunan yang saling bertubruk dijadikannya musik bagi tariannya. Aku terpana melihatnya. Lantas berdiri dan tertegun. Ia menari sambil mengelilingiku, entah darimana ia mempelajari tarian itu. Sebab yang kutahu ia hanya mempelajari Aikido. Dengan setelan motif bunga-bunga dan rok selutut, ia menggodaku dengan lirikan matanya yang genit. Aku pura-pura tak peduli dengan lirikan-lirikan nakal itu, sampai tangannya menggapai tanganku dan dengan tiba-tiba aku mendekapnya. Menghentikan tariannya. Aku mendekapnya dari belakang, merasai harum rambut sepinggangnya yang ikatannya terlepas, dan angin memasaikannya.

Sepatah kalimat meluncur dari bibirku melalui daun telinganya, lembut, “Demi senja yang indah ini, aku mencintaimu dengan sungguh, gadis kecil. Dan bersamamu aku tak menginginkan apa-pun lagi.”

Ia melepas dekapanku dan menuju ayunan, lalu duduk di sana, terdiam, terpaku. Aku menghitung langkah menujunya dan berlutut di hadapannya lalu berucap, “Aku butuh kau, tanpamu tak lengkap diorama surga yang akan kubangun.”

“Maukah kau menjadi matahari pertama di hari-hari yang akan kusapa kelak? Maukah kau jadi langit malam yang paling akhir menemaniku terjaga?” Ucapku. Terbata. Gadis kecil masih terdiam, mematung.

Sesaat kemudian suaranya yang lembut namun dalam, memecah keheningan, “Haruskah aku menolak seorang lelaki yang mau menemaniku bercerita, berkhayal, dan bermimpi?” Ucapnya sembari meletakkan manik-manik mata indahnya yang berwarna kecokelatan tepat di atas mataku. Kuletakkan kecupku di atas keningnya sebagai jawabannya. Serasa saat itu waktu berbaik hati padaku, membekukan semua yang ada di taman itu. Perlahan semburat merah jingga membenamkan senja yang sejak tadi mencuri dengar perbincangan kami. Senja yang menjadi saksi janji seorang lelaki pada gadis yang dicintainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s