Perjalanan Pulang

Di dalam TransSemarang, kutemukan wajah-wajah letih senja itu, wajah yang menyiratkan kerinduan rupa-rupanya, setelah aktivitas harian mencari suapan nasi dan tegukan air. Apa yang mereka pikirkan, mungkin sama dengan apa yang ada dalam benak ku; sebuah rindu yang ingin segera berlabuh di hangatnya kopi sore yang dibuatkan dari jemari penuh kasih.

Shelter-shelter kusinggahi dan rindu pun menghitung jarak, membagi detak, semakin dekat bayangnya pun semakin lekat. Tak lama dentang ponsel berbunyi, suara wanita di ujung sana — ibu menunggu.

Momen itu. Momen itu terakhir kucecap beberapa bulan lalu. Sebelum ia pergi meninggalkan kelu yang begitu beku, sebelum serangan stroke membuatnya rebah, mengalah pada waktu.

Kini, TransSemarang tak ubahnya kereta pengantar senyap untukku, menuju kesunyian, menziarahi kesedihan. Dan aku tak lagi memikirkan wajah-wajah itu tengah memikirkan apa, merindukan siapa. Hanya lirik-lirik “murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah.” kini mengisi perjalanan pulangku. Pulang yang ingin kurasakan lebih jauh. lebih jauh, jauh hingga rindu tak lagi dapat menyentuhku.

-tulisan ini dibuat samabil diiringi lau Efek Rumah Kaca, Melancholia http://youtu.be/GlFzUIqetnc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s