Surat Untuk Kila


Pagi itu, masa lalu datang dengan membawa aksara-aksara yang kadaluarsa. Aku memeluknya, sebab karenanya aku ada.

-Hari pertama, setelah kepergian kila.
Dear Kila, aku sayang padamu. Sungguh!

-Minggu pertama, setelah kepergian kila.
Dear Kila, aku menyayangimu. Tidakkah kau merindukan aku?

-Bulan pertama, setelah kepergian kila.
Dear Kila, rinduku sudah tak tertahan. Bisakah kita memperjuangkannya lagi?

-Tahun pertama, setelah kepergian kila.
Dear Kila, bila kau tak ingin kembali, maka biar aku yang mendatangimu.

“Sudahlah, bu. Untuk apa lagi sih ibu menbaca surat-surat itu.” Kataku, sembari merapikan surat-surat yang tercecer di ranjang ibu.
“Ren, seandainya saja dulu ibu memberinya alamat, surat-surat ini tak akan memenuhi kamarnya saja.“ sesal ibu, sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Kupeluk ibu erat-erat, “Bu, Om Hendro sudah tenang di sana, tempat di mana cinta yang baik semestinya berpulang.”
Ibu tersenyum, entah kenangan apa yang sedang iya rawat di kepalanya. Om Hendro adalah cinta pertama ibu. Kalau bukan karena Kakek, mungkin ibu takkan menikah dengan ayah, dan aku tak bisa memeluk ibu seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s