Si Pemuja Awan

Siang hampir berganti malam, dan untuk kesekian kalinya di hari itu aku kembali ke Nol kilometer. Kuputuskan untuk berhenti di sana. Aku keluar mobil dan berjalan tanpa arah. Lembayung senja mulai menggantung diatas kota, tertutupi rindang pepohonan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Aku menengadah kepala memandangi, tepat seperti yang pernah dilakukan ‘Peri Senja’ di suatu hari; Ia begitu serius hingga aku tergerak bertanya padanya. Seperti biasa, aku merasa tidak nyaman setiap kali melihatnya termenung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, membuatku tergerus tanya.

***

“Aku sedang memandang awan-awan itu,” jawabnya ketika kutanya sedang apa.

“Ada apa dengan awan-awan itu?” tanyaku penasaran.

“Aku hanya bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak menciptakannya berwarna.”

“Bukankah awan-awan itu sudah berwarna? Ada yang putih, kelabu, bahkan sekarang berwarna lembayung seperti yang sedang kau lihat.” ujarku.

“Maksudku bukan itu, tapi warna yang lebih terang seperti biru, hijau, kuning, atau ungu.”

Saat itu aku lihat binar-binar di wajahnya jika ia sedang membayangkan sesuatu dalam pikirannya.

Ia menambahkan, “warna-warna itu mewakili suasana yang mungkin terjadi, misalnya kuning mewakili ceria, biru mewakili damai, ungu mewakili sunyi.”

“Omong kosong!” aku menyelanya saat itu.

“Setiap orang punya suasana hati berbeda-beda. Jadi, percuma saja awan diciptakan berwarna tak akan bermakna apapun,” kataku serius.

Ia menoleh ke arahku. heran.

“Indra, it’s just a wishful thinking, kenapa kau memandangnya berlebihan?” katanya.

Lalu tambahnya “kau kan tadi yang bertanya tentang apa yang kupikirkan dan aku telah menjelaskan, sejauh mana kau mengerti tak perlu kau tanyakan lagi kan? Aku mengatakan apa yang ada dalam pikiranku. Itu saja.”

Ia menatap tepat di manik-manik mataku.

“Kenapa sih kau selalu mempermasalahkan apa yang kupikirkan?” keluhnya, ketika itu.

***

Aku menarik nafas, ia benar. Ia tidak pernah memintaku untuk memahami atau menerima mimpi-mimpi dan harapannya. Ia membaginya denganku, itu pun karena aku bertanya. Baru kusadari, aku memilikinya dengan cara yang salah. Seharusnya aku membiarkannya berkembang dengan caranya sendiri, bukan membatasinya. Aku hanya cukup duduk di sebelahnya, tanpa suara, mendengar ceritanya, dan menemaninya menikmati senja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s