(masih untuk) Bunga Liar

Semarang, 14 Februari 2012

Kepada kamu yang bermukim di hati dan ingatan. Semoga kamu belum bosan menerima surat-surat saya. Namun kalaupun kamu bosan, itu takkan menghentikan saya menulisimu sebuah surat. Untuk kali ini saya tidak akan memberi link-nya ke twitter, pun takkan memberitahumu tentang keberadaan surat ini dalam blog. Dalam surat ini berisikan janji saya untuk kamu, jadi tak ada alasan bagi saya mengelak jika kelak saya ingkar padamu. Tetapi entah kapan surat ini akan terbaca olehmu, saya menyerahkannya pada waktu. Saya percaya ia kurir yang andal.

Kamu yang saya cintai, ah cinta tanpa perbuatan, itu omong kosong! Mungkin kata-kata itu ada di dalam benak kamu. Mungkin. Dan saya amat memahami itu. Saya tahu, saya belum melakukan apapun untukmu. Bahkan untuk memperjuangkanmu sebagai cita-cita saya. Jadi jika kamu mempertanyakan kesungguhan cinta saya untuk kamu, saya memakluminya. Pecinta yang malas, yang menunggu waktu, menanti takdir mempertautkan, apapun hal yang kamu katakan kepada saya, saya terima. Dan itu takkan mengubah pendirian saya yang mencintai kamu.

Dulu ketika saya mengetahui kamu telah berkasih, dan menghibahkan hatimu untuknya yang akan mengencanimu sepanjang usia. Saya cemburu, saya marah. Namun, kamu tahu? Ternyata cinta saya kepada kamu lebih besar dari sekadar api amarah atau cemburu. Saya mencintaimu bukan mencari kesenangan atau kebahagiaan, jika untuk itu, saya lebih baik mencari seseorang yang bisa saya genggam jemarinya sepanjang waktu, yang bisa saya kecup keningnya. Saya mencintaimu karena kamu seseorang yang telah menghidupkan kembali gairah hidup saya, setelah saya kehilangan orang yang begitu berarti di hidup saya -ibu saya- . Selain itu, cintapun telah memilih saya untuk mencintaimu dengan apapun keadaannya. Saya bisa saja menolak kehadirannya dengan menipu diri saya sendiri. Tapi saya takkan pernah melakukan itu.

Seperti yang pernah saya bilang, saya ingin jadi cinta yang baik untuk kamu. Sekalipun itu saya tidak bisa bersama dengan kamu di ujung usia nanti. Tak apa, sungguh tak apa. Saya ingin memperhatikan kamu dari kejauhan saja, agar tak menyakiti/melukai pemilik hati kamu. Tapi tolong, jangan pernah paksa saya melakukan hal terberat yang tak ingin saya lakukan, melupakan kamu misalnya. Jangan, jangan paksa saya untuk itu. Terakhir, ini janji saya yang akan dicatatkan masa. Saya akan selalu mencintaimu, mencintai kamu dengan cinta yang baik. Itu saja yang perlu kamu ingat hingga ujung waktu.

Tertanda,

Catur Indrawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s