Perihal Waktu

:iedateddy

Waktu berparuh di antara suara dan hening yang mengalun di udara. Titik samar kenang kadang kala mampu membawa kita pada hal-hal purba.

Waktu bergeliat di antara diam dan gerak, dua pasang sepatu saling ditenggelamkan cahaya lampu kota yang membawa sejumput rindu. Tapi kali ini rindu hanya angin malam, tak perlu ditakutkan tuk mengatakan cintaku adalah kamu, dalam titik samar terang dan dalam diam gerak.

Semarang , 25 Mei 2016

Kasih Tak Sampai

“Kamu mau kemana? Ke tempat ramai atau sepi? Ke pantai atau pasar malam? Kamu mau kemana?”

Itulah yang kerap ditanyakan Radit saat mendapati mataku merah menahan genang air mata yang nyaris tumpah. Dan seperti biasa, aku hanya terdiam, mematut diri. Lalu adegan selanjutnya Radit akan memeluk tubuh mungilku. Seketika hangat menjalari relung-relung hatiku. Aku bisa merasakan derap-degub jantung Radit yang tak beraturan, pun mungkin sama dengan Radit yang merasai derap-degub jantungku.

Ah, tapi semua itu cerita lalu yang masih saja didongengkan senja ke pucuk puncak ingatanku. Radit telah menjelma jadi kenangan. Entahlah aku harus menafsirkannya sebagai kenangan manis atau pahit. Semua sama saja, melahirkan butir-butir air mata yang kubiarkan terjatuh dan disaksikan lembayung senja.

Radit terlampau muda untuk menemuiNya kembali. Yah, walaupun Radit pernah berkata, tak ada yang terlampau muda untuk mati. Tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk mengatakan aku mencintainya. Aku mencintainya. Aku mencintainya.

Sekarang, kalau Radit ada di sampingku dan mendapati aku menangis, lalu mulai bertanya lagi pertanyaan yang dulu begitu membosankan terdengar di telingaku. Aku akan menjawab, “aku ingin selalu bersamamu ke manapun kamu pergi.”

Selangkah lagi aku menemuinya, sebelum akhirnya wajah Radit yang murung melintas di ingatanku, lalu menarikku menjauhi tubir rooftop gedung berlantai 41.

Bukankah Radit ingin selalu aku baik-baik saja?

15 Menit yang Menentukan

Aku mengenalnya di Pesta Pernikahan sahabatku. Sudah sejak dari pandangan pertama aku tahu lelaki ini lah yang aku cari. Tapi sejujurnya aku tak pernah mempercayai bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada. Lelaki ini baru menatap matanya saja sudah membuatku mempercayai hal yang selama ini tak pernah kupercaya. Setelah dari momen Pesta Pernikahan sahabatku, hubunganku dengannya semakin intens. Ia selalu meneleponku tiap malam meski yang diperbicangkan adalah hal-hal yang sudah diperbicangkan di hari lain. Tetapi aku tak pernah bosen mendengarnya bercerita. Suaranya begitu teduh seperti gemerincik rintih hujan. Ia tertawa ketika aku mengatakan hal demikian.

Sebulan setelahnya kami memutuskan berpacaran. Tidak, tidak. Ketika ia menyatakan cintanya padaku ia tidak mengajakku berpacaran, ia ingin aku menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Hal yang membuatku terharu. Karena selama ini lelaki yang pernah “menembakku” tak pernah mengatakan hal semanis ini.

Enam bulan kemudian ia melamarku. Jujur saja itu surprise yang tak pernah kusangka-sangka. Ia datang ke rumahku bersama keluarga besarnya. Keluargaku belum mempersiapkan apapun, karena semalam saat ia datang ke rumahku tak sedikitpun menyinggung mengenai lamaran. Aku bahagia, haru, sekaligus sangat terkejut.

Di bulan November yang basah pernikahan kami digelar. Semua berjalan lancer, meski di berbagai ruas jalan ibukota terendam banjir, tamu tetap memenuhi venue. Tak menunggu lama, sebulan setelah pernikahanku dengannya perutku telah terisi janin. Kami memang tidak menunda kehamilan secara usia kami yang sudah berkepala 3. Tiga bulan setelahnya aku mendapat kejutan kembali, ternyata di rahimku terisi sepasang janin. Betapa bahagianya diriku, aku pun melihat dia begitu bahagia hingga sampai ada setetes air mata yang memaksa jatuh dari matanya.

Hari yang di tunggu-tunggu tiba. Hari kelahiran sepasang buah hatiku. Selama hampir 9 jam aku berjuang untuk buah hatiku, dan ia tetap di sampingku, menyemangatiku. Meski aku tahu ia tak begitu tahan dengan darah atau bau darah.

*

Dua tahun kemudian.

Aku sungguh bahagia memiliki keluarga kecil. Si kembar sudah masuk PAUD, tiap pagi aku yang mengantar sebelum aku berangkat ke kantorku, nanti pulangnya ibuku yang menjemputnya. Si kembar benar-benar anak yang tangguh, mereka bukan tipe anak-anak yang pemalu. Meski keingintahuan mereka cukup tinggi dan menguras energy guru-guru PAUDnya.

Hari ini Suamiku ada meeting di daerah Bogor. Ketika berteleponan dengannya tiba-tiba kepalaku terasa sakit, seperti dibentur-benturkan ke tembok. Jelas hal itu membuatnya panik, ia memintaku untuk izin pulang dan kemudian ke dokter keluarga. Aku lakukan.

Setelah pemeriksaan di dokter keluarga kami, sang dokter mendiagnosaku aku punya penyakit seperti yang pernah diderita Almarhum Ayahku. Penyempitan pembuluh darah di belakang tulang leher. Suamiku menelepon lagi, meski aku sudah katakan aku tidak kenapa-kenapa, kesan suaranya masih terdengar seperti orang panik. Ia memintaku untuk menunggu, karena 15 belas menit lagi kemungkinan ia sudah sampai di tempat praktek dokter keluarga kami. Ia juga sudah menelepon Bang Nassir, sopir ibuku menuju ke tempatku untuk membawa mobilku. Kutunggu terasa lama sekali, akhirnya aku putuskan untuk pulang dengan membawa mobil sendiri. Di tengah perjalanan tiba-tiba rasa pusing yang teamat sangat itu datang kembali dan membuatku pingsan. Aku tak ingat apa-apa lagi selain benturan antara kedua bemper mobil.

Dalam kecelakan itu aku selamat sementara pengendara mobil lainnya tidak, ia tewas di tempat kejadian. Aku koma selama dua bulan di Rumah Sakit. Pertama kali yang mengetahui aku tersadar dari koma adalah adik iparku, kemudian ia memanggil seluruh keluarga yang saat itu sedang menjenguk. Kakakku yang pertama memelukku, lalu ibuku, ibu mertuaku, dan ayah mertuaku. Aku bertanya-tanya di mana suamiku dan anak-anakku. Mereka sedang di rumah, kata ibuku. Aku tersenyum karena jawaban ibu. Aku yakin sekali meraka pasti kangen denganku dan dengan masakanku. Setelah seminggu aku sudah diperbolehkan pulang, tapi tetap saja ada pertanya mengganjal, mengapa suamiku selama seminggu ini setelah aku sadar dari koma tidak juga datang ke rumah sakit atau paling tidak meneleponku. Aku ingin tanyakan hal itu pada ibu, tapi aku urungkan.

Sesampainya di rumah Si Kembar sudah menyambutku. Mereka memelukku erat. Dari matanya aku melihat ada kerinduan, juga terdapat kedukaan. Aku dibaringkan oleh kakakku di ranjangku. Sebelum ia pergi, aku menggenggam tanggannya. Ia tahu aku ingin menanyakan sesuatu. Ia bilang, ibu yang akan menjelaskan. Ia kemudian memanggil ibu. Bukan hanya ibu yang masuk ke kamarku, tapi juga ayah dan ibu mertuaku. Ibuku mengatakan dengan terbata, air matanya meleleh melewati pipi. Ia mengatakan suamiku telah tewas saat kejadian kecelakaan itu. Jadi saat itu yang aku tabrak adalah mobilnya, sementara ia tengah melaju kencang untuk menjemputku. Aku menangis sekeras-kerasnya. Aku tahu tangisku takkan membawanya kembali. Ini hanya sebuah jeritan penyesalan, andai saja aku menunggu 5 menit lagi. Andai.

Tiga minggu setelah kenyataan itu terdedah, aku baru bisa mengikhlaskannya. Baru berani keluar kamar, di mana di ruang keluarga Si Kembar tengah bermain puzzle bersama adik iparku. Ibuku menuntunku, ia menyerahkan album foto. Aku tahu itu album foto penguburan suamiku. Aku sebenarnya belum sanggup melihatnya, tapi kupaksa. Hari berikutnya, kami sekeluarga ziarah ke makam suamiku. Di atas pusaranya seluruh penyesalan aku haturkan bersama rangkaian air mataku yang tak henti-hentinya menjatuhi tanah perkuburannya.

**

Semarang, 16 Maret 2016

Berdasarkan cerita sebenarnya yang tentunya sudah ada sedikit banyak penambahan cerita

Dialog Semesta Tua

Kata-kata menjadi asap yang menguar ke langit, mengubah semua jadi kelabu seperti foto usang yang kalah mengabadikan zaman.

Perdebatan-perdebatan dari segenap agitasi adalah sirkuit yang memutari kepala, menciptakan badai di dalam bola mata.

Inilah tentang dialog semesta tua. Perbincangan yang melumut di batu-batu kali, sementara hidup seperti arus sungai.

Aku ingin sekali menjadi lubang hitam di dalam kepala semesta tua, mengisap seluruh pertanyaan-pertanyaan, juga segenap agitasi. Tak melulu jadi batu-batu kali yang dipaksa terkikis menuju  laut.

Kata-kata menjadi asap, menguar ke langit, seperti puisi ini. Tak berarti. Semesta tua tetaplah semesta yang congkak, menciptakan sirkuit-sirkuit agitasi baru.

Cinta yang Baik Dari dan Untuk Kekasih yang Buta

Di masa awal pernikahan kami semua berjalan sempurna. Ia perempuan yang pandai memasak. Sebisa mungkin ia selalu menyiapkan sarapan dan makan malam untukku, meskipun ia juga seorang wanita karier. Setiap ada waktu senggang kami makan siang bersama, kalaupun tak sempat, pesan singkat darinya sudah merupakan hal yang menyenangkan. Ia bersikeras mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, seringkali aku meminta izin darinya untuk mencari asisten rumah tangga, untuk sedikit meringankan pekerjaannya. Tetapi ia selalu menolak. Ia ingin mengerjakan semuanya untuk aku. Ia pernah mengatakan padaku, ibunya pernah berkata kemeja suami yang selalu wangi dan selalu rapi itu adalah tanda cinta dari istrinya. Itu sebabnya aku selalu melihatnya tampak bahagia ketika ia tengah mencuci kemeja-kemeja kerjaku.

Namun beberapa bulan terakhir, aku melihatnya sering termenung dengan wajah sedih. Sekali waktu aku mendapatinya ia tengah menangis sambil memeluk kemeja-kemejaku yang hendak dicucinya. Ia selalu mengatakan tidak ada apa-apa, saat kutanya mengapa ia begitu bersedih. Aku tahu ada yang tidak beres dengan istriku.

Seperti biasa jika hendak ke kantor, sebelum berpisah aku selalu mencium keningnya. Arah kantor kami berlainan, dan kami belum memiliki kendaraan pribadi. Aku urungkan pergi ke kantorku. Aku memilih membuntuti istriku. Di perempatan jalan ketika menyeberang aku melihat istriku berjalan limbung. Aku ingin membantunya, tapi tentu ia akan marah karena tanpa sepengetahuannya aku telah mengikutinya. Sebab itu aku hanya mengikutinya dari belakang sampai ia masuk ke dalam bus menuju ke kantornya. Namun tetap pikiranku tak bisa tenang.

Seperti pagi biasanya, istriku terbangun lebih dulu. Tapi ada hal yang aneh, ia berjalan sambil merambati benda-benda dan dinding. Ketika hendak menyiapkan sarapan dan memotong tomat, ia meraba-raba. Ada apa dengan istriku? Aku ingin kembali bertanya padanya, tapi pasti ia akan menjawab, “aku baik-baik saja.” dan setelahnya tersenyum manis. Sungguh aku tak tega. Apa istriku buta? Apa penyebabnya. Setelah ia pergi ke kantor, aku membuka lemari pakaiannya. Di tumpukan pakaian paling bawah aku menemukan sebuah amplop berwarna cokelat. Amplop itu berisi surat keterangan dokter mata, istriku terkena penyakit kelainan kornea mata. Semakin lama daya melihatnya semakin berkurang, dan berakhir pada kebutaan.

Pagi ini ia terbangun benar-benar dalam keadaan buta. Tetapi seolah ia baik-baik saja. ia masih menyiapkan sarapan untukku. Meski sering kali aku membantunya, tanpa sepengetahuannya tentunya. Ia masih mencuci dan menyetrika kemeja-kemeja kerjaku, meski hasilnya sangat jauh berbeda dengan dulu. Tapi bagiku cinta tak didasari wangi dan rapinya kemeja kerjaku. Usahanya untuk menyenangkanku itu sudah cukup bagiku. Dan mulai pagi ini aku selalu mengantarnya ke kantor, tentu tanpa sepengetahunya. Pun aku menjemputnya ketika pulang dari kantornya.

*seminggu kemudian*

Aku mendapatinya menangis tersedu di kamar sambil memeluk guling. “Aku ke kantormu, ternyata kau sudah pulang lebih dulu,” ujarku. “Aku sudah dipecat, mas,” sahutnya. Aku memeluknya, erat. “Apakah orang buta tidak boleh bekerja, mas?” tanyanya. “Tentu boleh, istriku. Apakah aku pernah melarangmu bekerja? Kalau kantormu memecatmu ya sudah tak apa-apa. Kamu bisa bekerja di rumah. Apa pekerjaan yang kau suka kerjakan lah,” ujarku. “Tapi aku buta, mas. Apa yang bisa dikerjakan orang buta?”. “Kau lupa siapa yang menyiapkan sarapan untukku? Siapa yang menyiapkan pakaian kantorku? Yang buta cuma matamu, bukan hatimu. Jangan bersedih, aku akan selalu ada untukmu.”

Ia memelukku erat. Erat sekali. Dan entah mengapa aku baru kali ini merasakan perasaan begitu sangat menyayanginya.

Semarang, 16 Februari 2016

Masihkah Kau Menantikan Surat Dariku?

Umur senja masih beberapa menit sebelum akhirnya petang datang dan menggantikannya. Desir angin pantai sore itu begitu keras menyentuh tubuhku, meskipun dua helai kaos dan sehelai baju hangat membungkus tubuhku tetap saja aku dapat merasakan angin itu berhasil menyentuh hingga ke tulang-tulangku. Bukan hanya tubuhku, helai-helai rambutku pun dimasaikannya.

Tiap sore, di bulan-bulan hujan, aku selalu berdiri di pantai itu. Menatap garis horizon nun jauh di sana dan berharap dia, lelaki yang telah kuhibahkan hatiku pun melakukan hal serupa. Dua tahun sudah ia pergi merantau ke tanah seberang, aku masih ingat betul sore itu di bulan hujan ia memelukku sesaat sebelum kapal yang membawanya mengangkat sauh. Aku ingat betul kemeja yang ia kenakan, aku masih ingat betul wangi parfum yang ia pakai, aku masih ingat betul kata-kata patah yang ia bisikan ke telingaku. Kata-kata yang membuatku selalu berdiri memandangi garis horizon tiap sore di bulan-bulan hujan.

Seminggu selepas ia pergi ke tanah seberang, surat pertama darinya kuterima dengan hati riang semacam gadis yang baru pertama kali mendapatkan surat cinta. Ia mengabarkan bahwa ia telah mendapatkan pekerjaan di tanah seberang. Dan tiap minggu surat-suratnya selalu kunanti. Akupun selalu membalas surat-suratnya.

Semua berjalan terasa baik-baik saja. Hingga surat-suratnya tak lagi mendatangiku, tetapi aku tetap menuliskannya surat.

*

Senja di bulan hujan senantiasa mengingatkanku pada wajah sendu gadis itu. Tak terasa sudah dua tahun aku di tanah rantau, kerinduanku pada gadis itu kian menumpuk. Aku tak pernah bisa lupa pada wajah yang berbalut kerudung berwarna marun ketika melepasku pergi ke tanah rantau. Aku tak pernah bisa lupakan air matanya yang menetes melintasi pipi, andai saja syariat membolehkan aku ingin sekali berwudhu menggunakan air matanya (red: pinjam kata-kata Azzam pada Aya di PPT 1).

Sesampainya di tanah rantau seminggu setelah mendapat pekerjaan, ingin rasanya memberi kabar baik padanya. Apa yang aku lakukan di tanah rantau ini tak lain dan tak bukan hanya untuk dirinya. Aku ingin menikahinya. Seperti selayaknya pemuda-pemuda lain.

Setiap minggu aku tak pernah alpa mengiriminya surat. Terkadang aku menyisipkan prangko agar ia bisa segera membalas suratku. Hingga suratnya yang terakhir kuterima. Dalam suratnya ia hendak dinikahkan dengan anak Tetua adat, ia memintaku melupakannya. Dan tentu saja aku tak bisa melupakannya. Semakin berusaha, semakin aku tersiksa.

Sebuah tawaran menarik dari rekan kerjaku aku dapatkan. Ia mengatakan bahwa dua hari lagi Kapal pesiar Belanda dari Batavia akan merapat ke dermaga dan kebetulan ia memiliki Paman yang bekerja di Kapal itu sebagai koki dan kerap menawarinya untuk bekerja dengannya di Kapal itu. Ia tak suka kerja di Kapal, laut selalu membuat perutnya terguncang-guncang hingga membuatnya mabuk. Ia menawariku untuk menggantikannya. Tentu tawarannya aku terima. Semakin aku jauh darinya, semakin mudah aku melupakannya, pikirku.

*

Umur senja masih beberapa menit sebelum akhirnya petang datang dan menggantikannya. Desir angin pantai sore itu begitu keras menyentuh tubuhku. Tetapi aku tak merasakan dingin, justru ada hangat yang memelukku erat. Aku menatap lekat garis horizon nun jauh di sana. Kini aku tahu apa yang telah membuatmu berhenti menulis surat untukku. Maafkan aku, maafkan orangtuaku. Tubuhku bisa di sentuh oleh apa dan siapapun, tetapi hatiku tetap kuhibahkan padamu.

*

Senja di bulan hujan senantiasa mengingatkanku pada wajah sendu gadis itu. Dan sekali lagi aku mengingat begitu detail wajah gadis berkerudung warna marun itu, sebelum akhirnya air memasuki dek dan menenggelamkan Kapal.

***

Semarang, 31 Januari 2016

Gue Benci Jatuh Cinta!

Nama Gue Naya. Seperti gadis-gadis belia kebanyakan, dulu sekali gue sering banget berkhayal tentang jodoh gue. Dalam khayalan itu gue gak pernah berharap jodoh yang muluk-muluk kok, cuma berharap ada seorang Pangeran dari Negeri antah-berantah yang tiba-tiba singgah di jendela kamar gue dengan mengendarai kuda unicorn putih. Dan dia kemudian menculik gue ke Negerinya untuk dijadikan Permaisuri. Tentu saja gue bakal suka rela diculik olehnya. Sebab itu sejak kecil gue sering banget sebelum tidur berdiri di dekat jendela kamar dan berdoa semoga Pangeran itu tidak terkena macet.

Gue masih percaya Pangeran dari Negeri antah-berantah itu akan segera menjemput gue. Hari demi hari gue menanti, hingga gak terasa waktu cepat berlalu dan musim berubah. Di antara penantian gue itu, gue pernah naksir tiga cowok dan pernah ditembak tiga kali. Sialnya tiga cowok yang pernah gue taksir itu, gak ada satu pun yang melirik gue. Gue gak tahu ini kesialan atau apa, gue ditembak tiga kali oleh cowok yang sama. Dan gue selalu menolaknya. Cowok yang menembak gue ini sebenarnya cowok yang baik, hanya saja dia jauh banget dari kriteria Pangeran yang selalu gue nantikan setiap malam di jendela kamar gue.

Pertama kali dia menembak gue, saat gue kelas tiga SD. Dia menembak gue melalui surat yang dia titipkan melalui teman sebangku gue. Di dalam suratnya dia bilang suka gue dan ingin mengajak gue menonton bioskop. Yang membuat tercengang di dalam surat itu pun dia menyisipkan beberapa lembar uang untuk membeli tiket bioskop. Beberapa lembar uang monopoli lebih tepatnya. Meskipun yang ia sisipkan itu uang asli, gue tetap menolaknya. Sebab selain gue ingin fokus belajar, gue juga gak mau dibilang gak setia oleh Pangeran berkuda Unicorn gue.

Gue sempat berpikir dia sudah lupa sama perasaannya terhadap gue, tetapi gue salah. Saat itu, saat gue kelas dua SMP dia kembali menyatakan perasaannya ke gue. Kali ini dia menyatakan rasa sukanya bukan melalui surat, tapi langsung di depan gue. Gue masih ingat dengan jelas ekspresi wajah dia, dan wajahnya gak pernah berubah. Meski sudah kelas dua SMP dia masih sering ingusan, terlebih kalau dia sedang nervous. Dan satu hal yang masih gue ingat dengan jelas adalah tempat di mana ia menyatakan perasaannya lagi pada gue. Dia nembak gue di depan toilet cowok yang pesingnya minta ampun. Tetapi, meskipun dia menembak gue di restoran termewah pun gue tetap bakal menolak dia. Alasan gue sama seperti pertama kali gue menolaknya, dan ditambah gue lagi naksir sama ketua OSIS yang baru terpilih, meski akhirnya gue tahu belakangan ini bahwa ketua OSIS yang pernah gue taksir di SMP itu gak suka sama cewek.

Gue dan Indra –cowok yang selalu gue tolak itu- sudah jarang bertemu ketika kami SMA. Gue sekolah di SMA 56 Jakarta, sementara Indra masuk ke SMA 95 Jakarta. Rumah kami memang satu blok, saat gue masuk siang, si Indra masuk pagi. Dan sebaliknya. Kami bertemu hanya ketika blok di komplek kami mengadakan acara. Saat SMA si Indra ini lebih tinggi dari gue, padahal sebelumnya gue yang lebih tinggi dari dia. Gue menyadari itu ketika gue bertemu dia di acara Maulidan. Gue harus akui sih, kalau sekarang si Indra ini makin kece dari dia saat di SD atau SMP. Tapi satu hal yang gak pernah berubah dan selalu gampang bikin gue ilfil, saat dia nervous ingusnya suka tiba-tiba keluar dari lubang hidungnya. Dan gak jarang dia gak menyadari hal itu.

Di paragraf awal gue bilang ditembak tiga kali. Momen ketiga dia menembak gue itu saat di Stasiun kereta api, sesaat sebelum gue pergi ke Jogja untuk kuliah di sana. Sebenarnya gue sudah menolak diantar ke Stasiun olehnya, tapi sore itu hujan deras sementara taksi yang gue pesan belum kelihatan batang bumpernya. Nyokap gue yang memaksa gue menerima tawaran si Indra untuk diantar menggunakan mobilnya, lagi pula memang waktunya sudah memepet untuk mencari taksi di jalan.

Kali ini saat dia menembak gue di Stasiun berbeda dari dua cara sebelumnya yang terlihat konyol. Sekarang dia lebih romantis. Gue gak tahu, aura Stasiun yang bikin dia romantis atau apa, tapi jujur saja hal itu nyaris bikin gue terlena dan melupakan Pangeran berkuda Unicorn kesayangan gue. Gue tetap menolak dia. Selain alasan yang sama seperti alasan sebelumnya, aih gila saja LDRan. Jogja itu kota pelajar. Di sana tentu banyak pelajar dari daerah-daerah lain, barangkali saja Negeri antah-berantah akan mengirim Pangeran berkuda Unicornnya ke Jogja untuk menimba ilmu. Dan Jogja menjadi jendela yang mempertemukan gue dengannya.

Satu setengah tahun sudah gue berkuliah di Jogja, di Institut Seni Indonesia. Akhir Ramadhan gue kembali ke Jakarta untuk merayakan Idul Fitri bersama. Tahun lalu gue gak dapat tiket, jadi terpaksa merayakan lebaran di Jogja. Di malam takbiran gue bertemu si Indra. Dia sudah punya gandengan, agak sedikit cemburu sih. Dasar cowok, janjinya mau menunggu ternyata sama saja seperti cowok kebanyakan. Tetapi gue singkirkan rasa cemburu gue, karena dengan begitu gue bisa lepas dari terror perasaan si Indra pada gue. Dia mengenalkan ceweknya yang dikenal melalui situs pencarian jodoh. Mulailah dia mempromosikan situs itu pad ague ketika gue dengan polos mengatakan gue masih jomlo. My Mistakes. Gue penasaran, gue ikutin saran dia, dan berharap kembali gue bisa menemukan Pangetan gue itu.

Setelah sign up hampir nyaris dua minggu tanpa respon. Gue mulai berpikir, apakah deskripsi perihal diri gue di situs itu kurang menarik atau foto gue yang kurang terbuka dan kurang seksi? Gak, gue tahu, Pangeran gue bukan tipe cowok yang mata keranjang. Gue akan tampil apa adanya.

Gue balik lagi ke Jogja, masih diantar si Indra, tapi kali ini dia mengajak ceweknya. Nyaris sebulan saat gue mulai mau melupakan situs pencarian jodoh itu tiba-tiba gue menerima notifikasi di email gue dari situs pencarian jodoh. Gue buka, dan Pangeran berkuda Unicorn itu benar-benar nyata. He is real! Oh My God, I’m happy! Dia minta kontak gue dan setelahnya kami berkomunikasi bukan hanya via teks. Tiap malam sebelum tidur dia selalu mengucapkan “Good night sleep tight, My Guardian Angel” yang bikin kupu-kupu di perut gue makin bergeliat.

Gue dan dia merencanakan pertemuan. Kami bertemu pertama kalinya di kafe yang tengah happening di Jogja. Buat gue suatu kebetulan ternyata dia juga tinggal di Jogja. Di pertemuan kedua, masih di kafe yang sama, kami memutuskan berpacaran. Hari-hari setelahnya dia selalu bikin gue bahagia. Sudah sebulan gue mengenal dia. Dia mengundang gue makan malam bersama di rumahnya. Dia gak bisa jemput gue, dia cuma memberi gue alamat. Dengan dandan paling cantik gue datang ke rumahnya. Tetapi rumah alamat yang gue tuju itu sedang ada keramaian. Gue memastikan kembali alamat itu dengan bertanya, semua membenarkan rumah itu tempat di mana Agung Yudha tinggal. Di rumah itu gue di sambut oleh perempuan paruh baya yang di sela-sela keriput wajahnya masih menyelinap sisa-sisa kecantikan masa mudanya. Perempuan itu Ibunda dari Agung Yudha. Perempuan itu agak sedikit terbata menjelaskan pada gue ketika gue menanyakan keberadaan Agung Yudha. Ia mengatakan sambil sesekali mengembuskan napasnya yang agak berat, keramaian dan kesibukan yang terjadi di rumahnya ini adalah untuk memperingati 40 hari meninggalnya Agung Yudha. Gue gak percaya, baru tadi pagi ia mengirimkan pesan teks pada gue. Lalu gue kembali teringat beberapa waktu lalu, saat pertemuan pertama di kafe yang tengah happening di Jogja itu. Seseorang Waiter dan beberapa pengunjung memandang gue dengan tatapan aneh. Saat itu gue berpikir mereka iri pada gue, karena malam itu gue berkencan dengan Pangeran berkuda Unicorn kesayangan gue. Dan gue baru ingat bukan sekali itu saja orang-orang memandang aneh ke gue ketika gue sedang jalan bareng Agung Yudha.

Ibunda Agung Yudha menjelaskan, bahwa anaknya kecelakaan dan tewas ketika akan pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang. Dan tempat yang dimaksud adalah kafe yang tengah happening di Jogja, dan orang yang dimaksud gak lain adalag gue sendiri. Saat itu gue menangis dan sempat pingsan juga.

Karena Ibunda Agung Yudha tak lagi mempunyai anak, sementara ia juga tinggal seorang diri. Mulai saat itu Ibunda Agung Yudha menganggap gue anak angkatnya. Sampai sekarang gue masih sering datang ke rumah Ibu Dewi. Terutama ketika jatah bulanan gue mulai menipis dan gue perlu makan gratis.

*

Gue hakul yakin ketika menceritakan ini pada si Indra, dia bakal tertawa terbahak-bahak. Si Naya, cewek yang pernah menolaknya ternyata gebetannya hantu, pikirnya. Dan ketika gue minta kisah ini dituliskan dalam blognya, gue yakin banget banyak hal yang diedit. Terutama saat di bagian dia. Sebenarnya dia menembak gue tiga belas kali, bukan tiga kali. Saat dia mengantar gue ke Stasiun, itu naik bajaj. Baju gue sampai basah kecipratan hujan. Bukan naik mobil. Dan satu lagi, dia masih jomlo sampai sekarang, dan masih ngarep sama gue. Ceweknya yang dia tulis di dalam kisah gue ini cuma imajinasinya semata. Tapi walau bagaimanapun, dia tetap sobat gue yang masih sering ingusan kalau lagi panik bin nervous.

Oh, ya, satu lagi. Nama gue bukan Naya dan nama Pangeran berkuda Unicorn kesayangan gue itu bukan Agung Yudha. Hish… kenapa meski diganti-ganti sih!

Semarang, 11 Januari 2016