Sebuah Perbincangan Kecil Tentang Rahasia Kecil

“Ceritakan dong tentang keluargamu, ayah dan ibumu?”

Entah aku harus menjawab seperti apa pertanyaan semacam ini. Aku tak pernah suka menceritakan perihal hidupku kepada orang lain. Kalaupun sampai aku katakan, ada dua kemungkinan, aku berbohong atau aku sangat mempercayai orang yang tengah berbincang denganku ini. Namun rata-rata dari sekian orang yang baru berkenalan dan bertemu denganku lantas menanyakan perihal tersebut, sebisa mungkin aku tak menjawabnya dengan mengalaihkan ke perbincangan lainnya. Bukan, bukan karena aku malu pada hidupku. Bahkan aku sangat bangga pada hidupku. Aku hidup dalam keterasingan, di sebuah kota asing yang tak pernah terbayang dalam hidupku sebelumnya. Ayahku hanya seorang montir mesin di sebuah perusahaan tekstil, sementara ibuku hanya ibu rumah tangga lulusan sekolah tingkat pertama. Aku bangga dengan mereka, ketekunan ayah dan tekadnya yang selalu ingin membahagiakan keluarga, ia adalah pekerja keras yang sampai kini jadi teladanku, sedangkan ibu adalah sosok tegar di tengah himpitan kesulitan dalam keluarga kami. Ketegaran dan kelembutannya adalah perpaduan yang membuat kami sekeluarga dapat mengarungi hidup yang sedemikian keras.

Aku tak pernah menceritakan perihal tersebut, setiap kali orang yang baru berkenalan dan bertemu denganku menanyakan pertanyaan yang tak pernah kusukai itu. Bukan karena aku malu dengan keadaan hidupku, keadaan ayah dan ibuku. Tetapi karena jarang ada orang yang tak merendahkanku sesaat setelah aku menceritakan perihal tersebut.

“Lalu bagaimana dengan hidupmu?”

Adalah pertanyaan lainnya yang biasanya akan mengikuti setelah pertanyaan yang tadi. Seperti yang kubilang, aku hidup dalam keterasingan, di sebuah kota asing yang tak pernah terbayangkan aku akan melewatinya. Dahulu, semasa kecilku, aku tinggal di pinggiran ibu kota. Sawah dan air-airnya masih jernih. Banyak tanah lapang, bila kemarau tiba layang-layang menjadi sahabat kami bermain di sana dan bila penghujan tiba, si kulit bundar tak pernah terlewatkan. Kini semua berubah. Yang ada hanya sekumpulan bangunan-bangunan mewah. Teman, kawan, dan sahabat sepermainan dulu, entah kemana. Kalau saja aku tak diasingkan di kota asing, mungkin aku tak pernah kehilangan mereka. Mungkin.

“Apa yang membuatmu terasing, atau merasa terasing?”

Apa aku harus jawab pertanyaan yang tidak hanya menyentuh privasiku saja, tapi telah menohok jauh ke dalam? Apa setelah aku ceritakan perihal ini, kau akan tetap jadi temanku? Atau kau seperti yang lainnya, menjadikanku semacam SPBU, yang dikunjungi kalau dibutuhkan saja sementara jika tangkimu penuh bahkan kau takkan melengos sedikitpun ke arahku. Baiklah, sebaiknya aku ceritakan saja, aku tahu kau tak suka dengan penasaran-penasaran dalam kepalamu. Dan aku pun tak suka melihat wajahmu yang kebingungan membaca gurat-gurat teka-teki di wajahku. Kalaupun pada akhirnya kau tetap memilih menjadikanku SPBU, sama seperti yang lainnya, itu semakin menguatkan keyakinanku bahwa tak ada yang lebih setia daripada kesunyian.

Dahulu aku mempunyai hidup yang sungguh menyenangkan. Seperti yang kukatakan tadi, aku memiliki kawan-kawan masa kecil yang menyenangkan. Aku hidup di pinggiran ibu kota. Sampai pada akhirnya peristiwa itu yang membuat jalan hidupku berubah. Saat itu usiaku belum dikatakan dewasa, walau sebenarnya aku sudah bersekolah kelas dua SMA. Perceraian sang kakak dengan suaminya yang pribumi yang membuat aku sekeluarga semacam terusir dari tempat kami bermukim. Untuk menyelamatkan kakak yang kerap mendapat teror dari mantan suaminya, ibu memilih untuk menjual rumah yang ia beli dari uang pesangonnya dulu sebelum memutuskan menikah dengan ayah. Saat itu, aku ingin sekali menyuarakan sesuatu dalam hatiku. Tapi aku tahu, suaraku takkan didengar oleh mereka. Aku dianggap belum dewasa. Aku menerima keputusan ibu dengan agak sedikit berat. Ibu memilih pindah ke kampung halamannya, Kota ini. Sementara aku, ayah dan, kakakku masih tetap melanjutkan hidup di ibu kota. Saat itu baru saja naik ke kelas tiga, sedang ayah masih bekerja di perusahaan tekstil, dan kakakku untuk menghidupi anaknya yang dibawa ibu ke kota ini, ia bekerja di Bandara dengan bermodalkan bahasa Jepang dan Inggris yang fasih. Mulai saat itu aku hidup tanpa ibu. Awalnya berat sekali, karena sebelumnya ibu adalah orang yang paling dekat denganku.

Beruntung, tanpa ibu prestasiku di sekolah tak lantas jadi menurun. Saat kelulusan tiba, ibu memintaku untuk segera ikut dengannya di kota ini. Aku berusaha menolak. Aku ingin kuliah di Institut Kesenian. Aku telah berjanji dengan mantan terindahku untuk berkuliah di Institut Kesenian bersama-sama. Kami sudah mengambil formulir dan mengisinya. Tetapi, setelah aku berpikir ulang. Ibu lebih membutuhkanku dibanding mantan terindah. Dan di sana, di kota kelahiran ibuku, aku terasing. Aku tak menemukan seseorang yang benar-benar dapat kukatakan kawan. Semua berjalan atas dasar perlunya saja. Aku mulai menarik diri dari kehidupan sosial, aku tak bisa hidup dengan gaya semacam itu. Tahun-tahun beranjak, dan aku mendapati diriku yang lain dari aku 10 tahun yang lalu. Aku anti-sosial, merasa aneh di tengah keramaian, dan dulu kesunyian yang menjadi musuhku kini lebih memahamiku. Kesunyian semakin erat memelukku sejak aku memutuskan untuk tak melanjutkan kuliahku di bidang kesehatan. Bangku perkuliahan yang lagi-lagi tak pernah kubayangkan sebelumnya, mempelajari anatomi tubuh manusia, anamnesa, dan perihal lainnya yang membutuhkan komunikasi basa-basi. Sementara aku sama sekali tak bisa berbasa-basi.

Kesunyian lebih merasuk atau bahkan perlahan-lahan mengambil seluruh hidupku, sejak itu, sejak Izroil bertamu ke rumahku. Tanpa persetujuanku, ia menculik orang yang tak pernah membuatku merasa terasing di kota asing, ibuku.

Kini, rumah ini sepi, anak kakakku yang dulu dibawa ibu diambil kembali oleh kakakku. Aku kesepian. Aku terasing.

“Kenapa kau tidak mencari seseorang yang bisa menemani hidupmu?”

Sederhana saja, mereka tidak bisa berdamai dengan hidupku yang seperti ini. Lalu aku bisa apa, selain merelakan punggung dan kaki-kaki mereka menjauh. Aku tak ingin menahan kebahagiaan mereka.

“Lalu mengapa kau ceritakan ini padaku? Bukankah kau tadi berkata tak suka menceritakan perihal hidupmu? Apa kau tengah berbohong padaku?”

Seperti yang kukatakan kau boleh memilih menjadikanku semacam SPBU, boleh. Jadi, kau pikir sendiri apakah aku sedang membohongimu. Kalau aku membohongimu, apa untungnya, simpati? Tidak, tidak aku tak perlu simpati dari siapapun. Kalau mau, aku sudah mengambilnya dari dulu. Aku bersyukur Tuhan memberiku jalan hidup seperti ini. Dan aku pun bersyukur bisa sedekat ini dengan kebahagiaan, ya berbincang denganmu adalah sebuah kebahagiaan. Kalaupun pada akhirnya kau menjauhiku, aku berbahagia kau telah membawa satu rahasia kecil dari hidupku. Itu saja.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s